Kerajaan Demak
Kerajaan demak adalah salah satu kerajaan terbesar di Pulau
Jawa. Jika sebelumnya kerajaan di Nusantara berpedoman pada agama Hindu,
berbeda dengan Demak yang melakukan penyebaran agama Islam di Nusantara. Berdirinya
kerajaan ini berkat jasa para Wali Songo, dalam upaya menyiarkan agama Islam.
Mereka berhasil memusatkan syiar ini dalam satu lokasi, yaitu Demak di pesisir
utara Jawa Tengah.
Beberapa mubaligh yang ditunjuk untuk menyiarkan Islam di
Demak yaitu Raden Fatah dan Sunan Ampel, bahkan Raden Fatah berhasil mendirikan
pesantren di Desa Glagah Wangi. Para mubaligh tidak perlu waktu lama, karena
Desa Glagah Wangi berhasil memikat minat masyarakat. Desa ini kemudian menjadi
pusat ilmu pengetahuan, bahkan beberapa waktu kemudian menjadi pusat
perdagangan. Desa ini pun akhirnya menjadi Kerajaan Demak, dan menjadi kerajaan
islam pertama di Jawa.
Kerajaan ini resmi berdiri pada tahun 1481 M (1403 Saka)
dengan pendiri Raden Fatah, beberapa saat setelah runtuhnya Majapahit. Raja terakhir
Majapahit yaitu Prabu Brawijaya V,.
Peninggalan Kerajaan Demak
Beberapa peninggalan bersejarah menjadi bukti keberadaan
kerajaan ini, berikut beberapa peninggalan yang masih disimpan hingga sekarang.
1. Masjid Agung Demak
Masjid Agung Demak menjadi peninggalan yang paling populer,
juga sebagai saksi bisu kejayaan Demak. Masjid ini telah beberapa kali
direnovasi, dikenal dengan keunikan arsitekturnya yang memiliki arti filosofis.
2. Pintu Bledek
Bledek memiliki arti petir, menjadikan peninggalan ini
sering dikenal dengan istilah pintu petir. Dibuat oleh Ki Ageng Solo pada 1466,
sebagai pintu utama Masjid Agung Demak. Pintu ini sudah tidak dapat difungsikan
lagi, namun pengunjung masih dapat melihatnya.
3. Soko Tatal (Soko Guru)
Benda peninggalan ini merupakan sebuah tiang dengan diameter
1 meter yang menjadi penyokong masjid. Ada empat buah soko tatal, yang konon
dibuat oleh Sunan Kalijaga untuk Masjid Agung Demak.
4. Dampar Kencana
Dampar Kencana merupakan sebuah singgasana atau tempat duduk
raja/sultan, yang pernah memimpin Demak. Dampar kencana ini sempat digunakan
sebagai mimbar khutbah, sebelum akhirnya disimpan di Masjid Agung Demak.
Letak Kerajaan Demak
Berdasarkan studi yang dilakukan oleh IAIN Walisongo pada
1974, diperkirakan ada tiga wilayah yang menjadi letak berdirinya kerajaan
tersebut. Berikut beberapa buktinya.
Bukti pertama menyebutkan, bahwa tidak pernah ada kerajaan
atau istana megah di Demak.
Hasil penelitian menunjukan Raden Fatah hanya menyiarkan
agama islam saja di Demak, dan tinggal di rumah biasa. Begitu juga dengan
Masjid Agung, hanya dianggap sebagai lambang kerajaan saja.
Bukti kedua menyatakan, adanya penemuan istilah sitihingkil
(setinggi), betengan, pungkuran, dan jogoloyo.
Menunjukan bahwa persembahan para mubaligh Wali Songo
terletak tidak jauh dari istana, diperkirakan berada di sebelah timur
alun-alun. Konon pihak Belanda telah menghilangkan kesan keraton di daerah
tersebut.
Bukti ketiga, mengungkapkan bahwa letak kerajaan berada di
depan Masjid Agung Demak. Menyeberangi sungai di tengah dua pohon pinang,
banyak masyarakat yang percaya pohon tersebut adalah makam Kyai Gunduk.
Silsilah Kerajaan Demak
Selama masa kesultanan Demak, setidaknya ada tiga orang
sultan yang pernah menjabat. Silsilah ini yaitu sebagai berikut.
1. Raden Fatah 1500-1518
Dikenal dengan nama Pangeran Jimbun, dan mendapat gelar
Sultan Alam Akbar Al-Fatah. Pada masa pemerintahannya, Malaka jatuh ke tangan
Portugis namun Raden Fatah tidak mau mengambil risiko.
Maka diutuslah Pati Unus (putranya) serta 1513 pasukan,
namun persenjataan yang kurang membuat serangan tidak membuahkan hasil baik.
2. Pati Unus 1518-1521
Pati Unus memimpin setelah ayahnya wafat, beliau mendapat
panggilan Pangeran Sabrang Lor, karena sosoknya yang kuat dan berani.
Pati Unus berhasil memblokade Portugis dan membuat mereka
kehabisan stok makanan, dengan merencanakan penyerangan ke Katir.
3. Sultan Trenggono 1521-1546
Sultan Trenggono adalah adik Pati Unus, pada masa
pemerintahannya Demak mencapai puncak kejayaan.
Dikenal sebagai pemimpin bijaksana, yang berhasil memperluas
wilayah hingga Jawa Timur dan Jawa Barat. Beliau mengirim pasukan ke Sunda
Kelapa untuk mengusir Portugis pada 1522, tak lama dari situ Sunda Kelapa
mengubah nama jadi Jayakarta.
Masa Kejayaan Demak
Kesultanan Demak dikenal sebagai kesultanan terkuat di Jawa
pada awal abad ke-16, puncak kejayaannya ada pada masa pemerintahan Sultan
Trenggono.
Beliau dan pasukannya telah berhasil mengusir Portugis dari
Sunda Kelapa (Jakarta), beberapa wilayah lain juga berhasil dikuasai seperti
Surabaya, Malang, Pasuruan, Madiun, Tuban, dan Blambangan (kerajaan Hindu
terakhir di Jawa).
Sultan Trenggono menjodohkan puterinya dengan Pangeran
Hadiri, juga puterinya yang lain dengan Pangeran Paserahan (yang kemudian
menguasai Cirebon), menjodohkan Fatahillah dengan adiknya, dan Joko Tingkir
dengan adiknya yang lain.
Beliau telah berhasil melakukan perjodohan politik, sebelum
gugur pada pertempuran di Pasuruan pada 1946.
Masa Runtuhnya Kerajaan Demak
Keruntuhan kesultanan Demak mulai terlihat setelah gugurnya
Sultan Trenggono, dimulai dari para calon raja yang mengalami pertikaian. Seperti
Sunan Prawoti, putra Sultan Trenggono, dan Arya Penangsang (putra pangeran
Sekar Ing). Pertikaian berlangsung sengit, setelah Sunan Prawoto tega membunuh
adik tiri Sultan Trenggono. Sementara Arya Penangsang, berhasil mendapat
dukungan dari gurunya yaitu Sunan Kudus untuk menjadi Sultan. Beliau juga
mengirim anak buahnya yang bernama Rangkud, untuk membalaskan dendam atas
kematian ayahnya. Ada dua versi kisah pembunuhan Prawoto berdasarkan Babad
Tanah Jawi, pertama dia mengakui kesalahannya pada Rangkud kemudian dibunuh. Kedua,
dia Rangkud berkelahi dengan Prawoto setelah tak sengaja membunuh istri
Prawoto. Sama halnya dengan Arya Penangsangan, yang membunuh adipati Jepara dan
juga istrinya. Situasi semakin diperkeruh, saat Ratu Kalinyamat, Joko Tingkir,
dan menantu Sultan Trenggono menghabisi Arya. Hingga akhirnya kerajaan ini
jatuh ke pada tahun 1586 di tangan Panjang.
Kerajaan Pajang
Kerajaan Pajang merupakan kelanjutan dari Kerajaan Islam
Demak. Kerajaan Pajang didirikan oleh Jaka Tingkir yang berasal dari Pengging
yakni di lereng Gunung Merapi. Ia adalah menantu Sultan Trenggono yang diberi
kekuasaan di Pajang. Pasca membunuh dan merebut kekusaan Demak dari Aria
Penangsang, seluruh kekuasaan dan benda pusaka Demak dipindahkan ke Pajang.
Jaka Tingkir mendapat gelar Sultan Hadiwijaya dan sekaligus menjadi raja
pertama Kerajaan Pajang.
Islam yang semula berpusat di pesisir utara Jawa (Demak)
dipindahkan ke pedalaman membawa pengaruh yang besar dalam penyebarannya.
Selain Islam yang mengalami perkembangan, politik juga mengalami perkembangan.
Pada masanya, Jaka Tingkir memperluas kekuasaannya ke arah timur hingga Madiun di
area pedalaman tepi aliran sungai Bengaawan Solo. Pada tahun 1554 Jaka Tingkir
mampu menduduki Blora dan Kediri pada 1577. Karena Kerajaan Pajang dengan
raja-raja di Jawa Timur sudah bersahabat, pada tahun 1581 Jaka Tingkir mendapat
pengakuan sebagai sultan Islam oleh raja-raja penting di Jawa Timur.
Pada masa kepemimpinan Sultan Hadiwijaya, kejayaan yang
sudah dikembangkan pada masa Kerajaan Demak dapat dikenal di pedalaman dan
berkembang pesat di dalamnya seperti kesenian, kesusastraan dan penyebaran
agama Islam. Jaka Tingkir memimpin hingga tahun 1587 dan meninggal pada tahun
yang sama. Pasca meningglnya sultan Pajang tersebut, estafet kekuasaan jatuh
pada Aria Pengiri yakni menantunya yang juga adalah anak dari Sultan Prawoto.
Aria Pengiri pada saat itu mendapat kekuasaan di Demak bersama para pejabat
bawaannya pindah ke Pajang untuk menjadi pengganti Jaka Tingkir, sementara anak
dari Jaka Tingkir yakni Pangeran Benowo mendapat kekuasaan di Jipang yang
sekarang bernama Bojonegoro.
Pangeran Benowo merasa tidak puas dengan hasil yang
diterimanya yakni menjadi penguasa di Jipang, alhasil Pangeran Benowo meminta
bantuan Senopati pemimpin Mataram untuk mengusir raja baru di Pajang tersebut.
Hingga akhirnya pada tahun 1588 Kerajaan Pajang mampu dikuasinya. Sebagai
ungkapan terimakasih, Pangeran Benowo menawarkan untuk menyerahkan haknya yakni
warisan dari sang ayah untuk Senopati. Tetapi, Senopati ingin tetap tinggal di
Mataram akhirnya Senopati hanya meminta pusaka kerajaan saja. Berhubung Mataram
pada saat itu sedang dalam proses menjadi kerajaan besar, Pangeran Benowo
dikukuhkan menjadi raja Pajang selanjutnya dan Kerajaan Pajang sepakat berada
di dalam wilayah Kerajaan Mataram. Kerajaan Pajang berakhir tahun1618. Kerajaan
waktu itu memberontak terhadap Mataram yang ketika itu di bawah Sultan Agung
namun akhirnya Kerajaan Pajang dihancurkan.


Comments
Post a Comment