Skip to main content

Syariat, Tarekat dan Hakikat

Syariat, Tarekat dan Hakikat

A. Pengertian Syariat, Tarekat dan Hakikat

1. Syariat

a. Pengertian Syariat

Secara bahasa syariat memiliki arti memulai, jelas, terang, peraturan, undangundang dan hukum. Sedangkan secara istilah yang dimaksud dengan menurut Ali bin al-Hani syariat adalah perintah atau larangan Allah Swt. yang bersifat taklif (tuntutan beribadah yang dibebankan kepada makhluk) sebagai bentuk beribadah kepada Allah Swt. yang berkaitan dengan anggota badan (lahiriyah). Sedangkan menurut Nawawi al-Bantani yang dimaksud dengan syariat adalah hukum-hukum Allah yang dibawa oleh Rasulullah Saw. supaya diamalkan oleh umatnya yang meliputi perkara mubah, wajib, sunnah, makruh dan haram. Dari beberapa pengertian di atas, yang dimaksud dengan syariat adalah hukum-hukum yang dibebankan kepada umat Islam supaya diamalkan dan bernilai beribadah. Syariat menjadi petunjuk untuk hidup secara tepat di dunia ini, karena selain berkaitan dengan perihal ibadah, syariat juga mencakup perihal moral dan etika. Jika syariat sudah ditanamkan dengan kuat pada diri seseorang maka dapat dikatakan orang tersebut taat dalam hal agama, begitu juga sebaliknya.

2. Tarekat

a. Pengertian Tarekat

Secara bahasa tarekat berasal dari bahasa Arab Ṭariqah ( طريقة ) yang berarti jalan, aliran, keadaan dan garis pada sesuatu. Jadi tariqah adalah jalan atau metode setelah syariat yang digunakan untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah Swt. Tarekat secara istilah menurut Syaikh Nawawi al-Bantani adalah melakukan perintah wajib dan sunnah, dan menjauhi perkara makruh dan haram serta menjauhi perkara mubah yang tidak bermanfaat, mengutamakan sifat wara’ (hati-hati) yang dapat ditempuh dengan jalan riyaḍah (latihan).

Tarekat adalah tingkatan selanjutnya setelah syariat, karena pada tingkatan ini lebih menitik beratkan pada perkara ruhaniyah sedangkan syariat masih pada perkara lahiriyah. Tarekat digambarkan sebagai jalan cabang dari syariat yang merupakan jalan utama. Untuk melalui jalan cabang (tarekat) ini tidaklah mudah. Seorang salik (orang yang menempuh jalan ruhani) harus melalui beberapa cara, di antaranya dengan cara membiasakan diri untuk berbuat ikhlas, jujur, tenang, menjauhi perkara makruh dan haram, menghindari perkara mubah yang tidak bermanfaat, menjauhkan hati dari sifat tercela dan menghiasi dengan berbagai fadilah. Sedangkan al-Nawawi menjelaskan bahwa tarekat harus ditempuh dengan cara memperbanyak riyaḍah dengan cara mengatur pola makan, minum dan tidur agar tidak berlebihan, memperbanyak ibadah sunnah dan berzikir. Untuk melakukan semua itu para salik membutuhkan bimbingan dari seorang guru (mursyid), karena dengan dengan bimbingan seorang seorang mursyid ia selalu mandapatkan arahan dan pengawasan dari mursyid tersebut, jika dalam bertarikat tidak ada seorang mursyid untuk membimbing ditakutkan ia terjerumus dalam kesesatan.

3. Hakikat

a. Pengertian Hakikat

Hakikat secara bahasa bermakna kebenaran, kenyatan, keaslian, sesungguhnya, sebenarnya dan arti hakikat (bukan kiasan). Sedangkan secara istilah hakikat ialah makna terdalam dari perjalanan spiritual syariat dan tarekat yang diperoleh tidak dari guru melainkan dari Allah. Hakikat merupakan makna sesungguhnya dalam kehidupan beragama. Pada tahap hakikat ini seorang salik merasakan pengawasan Allah dalam setiap perbuatannya. Mereka benar-benar ikhlas beribadah hanya untuk Allah Swt. saja.

Pada tingkatan ini, seorang salik hanya memandang semua tindak laku maupun melihat sesuatu hanya dari sudut pandang Allah dan jauh dari hawa nafsunya. Dengan hakikat, seorang salik bisa dikatakan wusul (dekat) kepada Allah Swt. karena tanpa hakikat seorang salik hanya meniru amalan mursyid yang membimbingnya padahal hakikat dapat dicapai seorang salik dengan pengalaman langsung.

Pada tahapan ini, hati seorang salik benar-benar pasrah kepada Allah yang kemudian mengantarkannya pada ma’rifatullah dan nur tajalli (anugerah hidayah yang selalu bertambah). Hati merupakan unsur paling penting, karena untuk menemukan makna yang terdalam dari sesuatu haruslah melewati hati. Jika hati masih kotor maka tidak ada ruang untuk mengetahui yang suci. Untuk mendapatkan hati yang suci tidak terlepas dari amalan-amalan seseorang, baik secara lahiriyah maupun batiniyah. Untuk mendapatkan hati yang jernih, seorang salik dilatih untuk muraqabah atau mendekatkan diri pada Allah, membentengi nafsunya, tawadhu’ dan berakhlakul karimah.

Tujuan akhir dari hakikat adalah ma’rifatullah dan tingkatan ihsan, di mana seorang salik mendasari setiap perilakunya dengan niat untuk mendekatkan diri kepada Allah semata.

B. HUBUNGAN DAN KEDUDUKAAN SYARIAT, TAREKAT DAN HAKIKAT

Hubungan syariat, tarekat dan hakikat tidak dapat dipisah satu sama lainnya. Syaikh Nawawi al-Bantani menjelaskan bahwa syariat, tarekat dan hakikat saling berhubungan satu sama lainnya. Untuk mempermudah pemahaman, ketiga hal tersebut diibaratkan sebagai kapal (syariat), laut (tarekat) dan mutiara (hakikat). Jadi untuk mendapatkan mutiara yang indah, seseorang harus menyiapkan kapal terlebih dahulu untuk digunakan berlayar ke tengah lautan yang di dalamnya terdapat mutiara yang indah.

Seperti yang telah dijelaskan di atas, bahwa dalam beragama pelaksanaan syariat, tarekat dan hakikat harus dijalankan secara bertahap. Satu tingkatan harus dilaksanakan dengan sempurna terlebih dahulu barulah diperbolehkan untuk menuju ketingkatan selanjutnya yang lebih tinggi.

syariat merupakan tingkatan dasar yang harus dijalankan oleh salik untuk menuju ke tingkat selanjutnya. Syariat digambarkan sebagai pondasi dari sebuah bangunan, jika pondasi yang dibangun kuat maka bangunan yang ada di atasnya tidak akan mudah goyah dan roboh.

Syariat digambarkan sebagai sebuah pondasi, karena syariat merupakan titik permulaan dari perjalanan keagamaan manusia yang memuat berbagai tuntunan hidup, baik yang berhubungan dengan Tuhan maupun dengan sesama manusia (aspek lahiriyah). Oleh karena itu, orang yang ingin mencapai tingkatan hakikat harus memperkuat syariatnya terlebih dahulu.

Setelah syariatnya sudah kuat dan sempurna, maka pada tahapan selanjutnya ialah tarekat. pada tingkatan ini salik tetap melaksanakan perintah syariat secara sempurna dan mulai untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan cara memperhatikan hatinya dengan cara membiasakan diri untuk ikhlas, jujur, bersikap tenang dan mencegah hati dari sifat tercela. Pada tahapan ini yang lebih diperhatikan adalah aspek batiniyahnya. Sedangkan hakikat berada pada tahapan terakhir, karena hakikat merupakan proses lanjutan dari pengamalan syariat dan tarekat. Jika syariat mengacu pada aspek lahiriyah dan tarekat mengacu pada aspek batiniyah maka hakikat mengacu pada makna terdalam dari aspek lahiriyah dan batiniyah.

Oleh karena itu, ketiganya harus dijalankan sesuai urutan, karena seseorang tidak akan sampai ke tingkatan tarekat sebelum terpenuhi syari’atnya, dan orang tidak akan sampai kepada tingkatan hakikat jika belum memenuhi tarekatnya. Syaikh Nawawi mengatakan bahwa orang tidak akan mencapai puncak ibadah kecuali dengan menjalankan syariat dan mematuhi setiap aturannya, dan seseorang tidak akan sampai pada dimensi batin kecuali jika telah memenuhi dimensi lahiriyahnya. Dengan kata lain, syari’at tanpa tarekat dan hakikat merupakan hal yang sia-sia. hakikat tanpa syari’at dan tarekat akan membuahkan kebatilan.

C. PERILAKU ORANG YANG MENGAMALKAN SYARIAT, TAREKAT DAN HAKIKAT

Orang yang memahami syariat, tarekat dan hakikat akan memiliki sikap sebagai berikut:

1. Akan menjalankan perintah dan larangan agama secara benar.

2. Memiliki hati yang tenang.

3. Sabar.

4. Jujur.

5. Menjauhi maksiat.

6. Tawadlu’.

7. Wara’(berhati-hati).


Comments

Popular posts from this blog

Kebudayaan dan Kondisi Masyarakat Madinah Sebelum Islam

  Kebudayaan dan Kondisi Masyarakat Madinah Sebelum Islam Madinah pada mulanya bernama Yasrib, dinamakan Yasrib karena orang pertama yang tinggal di kota ini bernama Yasrib bin Qa’id bin Ubail bin Aus bin Amaliq bin Lawudz bin Iram, salah seorang anak keturunan Sam, putra Nabi Nuh a.s. kota ini sudah terbentuk kurang lebih 1600 tahun sebelum masehi. Kota Yasrib berjarak sekitar 300 mil sebelah utara kota Makkah, merupakan kota yang makmur dan subur dengan pertaniannya. Sebagai pusat pertanian, kota ini menjadi menarik bagi penduduk kota lain untuk berpindah kesana. Kota Yasrib dikelilingi oleh gunung berbatu, disini terdapat banyak lembah, atau yang paling terkenal dengan nama Wadi. Persawahan dan perkebunan yang subur menjadi sandaran hidup penduduk setempat. Penghasilan terbesarnya adalah anggur dan kurma, tidak mengherankan jika kurma terbaik di dunia terdapat di kota ini. Luas kota Yasrib kala itu hanya sekitar 15 km dan sekarang sudah berkembang menjadi 293 km dengan batas...

Sejarah Ilmu Kalam

SEJARAH ILMU KALAM A.       Aqidah dari Masa ke Masa 1.        Aqidah Masa Rasulullah Ketika Nabi Muhammad Saw. masih hidup, umat Islam masih bersatu-padu, belum ada aliran-aliran/firqah. Apabila terjadi perbedaan pemahaman terhadap suatu persoalan, maka para sahabat langsung berkonsultasi kepada Nabi. Dengan petunjuk Nabi tersebut, maka segala persoalan dapat diselesaikan dan para sahabat mematuhinya. Semangat persatuan sangat dijaga oleh para sahabat, karena selalu berpegang kepada firman Allah:   وَأَطِيعُوا۟ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ وَلَا تَنَٰزَعُوا۟ فَتَفْشَلُوا۟ وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ ۖ Artinya: “Dan taatilah kamu sekalian kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, karena semua itu akan menyebabkan kalian gagal”. (QS. Al-Anfâl [8]: 46) Para sahabat dilarang oleh Rasulullah Saw. memperdebatkan sesuatu yang dapat memicu perpecahan. Sehingga pada masa ini, corak aqidah bersifat monopolitik, y...

Perkembangan Islam di Afrika

 Kehadiran agama Islam di Afrika tidak bisa di lepaskan dari sejarah Hijrah Rosululloh di awal kenabian. Pada tahun ke-5 dari kenabian, Rasulullah Saw. memerintahkan beberapa orang sahabatnya (berjumlah 15 orang: 11 laki-laki dan 4 wanita) untuk berhijrah ke Habasyah (Ethiopia) . Hijrah ini dipimpin oleh Usman bin Maz’un yang bertujuan untuk menghindari penyiksaan-penyiksaan dan menyelamatkan diri dari kaum kafir Quraisy serta mendakwahkan agama Islam. Selain itu, pada sekitar tahun ke-6 Hijrah, Nabi Muhammad Saw. mengutus sahabatnya Hatib bin Abi Balta’ah untuk menyampaikan surat dakwah (seruan masuk Islam) kepada Muqauqis (penguasa Mesir, Gubernur Romawi Timur). Perkembangan Islam di wilayah Afrika pada masa khalifah Umar bin Khattab . Pada tahun 640 M, Islam sudah masuk ke Mesir dibawa Amru bin Ash dan berkembang ke wilayah Barqah dan Tripoli pada masa khalifah Usman bin Affan. Pada tahun 708 M pada awal pemerintahan Walid Bin Abdul Malik kepemimpinan Afrika Utara dibawah kepem...