Skip to main content

ILMU KALAM


ILMU KALAM


A.      Pengertian Ilmu Kalam
Ilmu Kalam adalah ilmu yang membahas berbagai masalah ketuhanan dengan menggunakan argumentasi yang rasional atau sesuai dengan pemahaman akal manusia. Kitab Suci Al-Quran menegaskan bahwa fondasi agama dan iman adalah pemikiran logis. Al-Quran selalu menekankan agar manusia beriman dengan menggunakan pikiran.  Dalam pandangan Al-Quran, taklid belum dapat dikatakan cukup untuk mengimani dan memahami keyakinankeyakinan (akidah) pokoknya. Karena itu, manusia harus melakukan telaah atau investigasi rasional atas prinsip-prinsip dasar dan akidah-akidah agama.
Secara Bahasa ilmu adalah suatu pengetahuan dan kalam artinya perkataan atau percakapan. Kalam yang dimaksud bukan pembicaraan dalam pengertian sehari-hari, melainkan dalam pengertian pembicaraan yang bernalar dengan menggunakan logika. Maka ciri utama ilmu kalam ialah rasionalitas.
Pengertian Ilmu Kalam Menurut Ahli
1)      Menurut Musthafa Abdul Raziq “Sesungguhnya ilmu ini berdasarkan argumentasi-argumentasi rasional yang berkaitan dengan keimanan dengan metode analisa”.
2)      Menurut Al Farabi “Ilmu kalam adalah disiplin ilmu yang membahas dzat dan sifat Allah beserta eksistensi semua yang mungkin (makhluk) mulai dari penciptaan hingga kebangkitan berlandaskan doktrin Islam”.
3)      Menurut Ibnu Khaldun  “Ilmu kalam adalah ilmu yang mengandung berbagai argumentasi tentang akidah imani berdasarkan dalil-dalil rasional”.
4)      Menurut TM. Hasby ash-Shidiqy “ Ilmu tauhid/ kalam adalah ilmu yang membicarakan tentang cara-cara menetapkan akidah agama dengan mempergunakan dalil-dalil yang meyakinkan, baik dalil itu naqli, aqli, maupun dalil wijdani (perasaan yang halus)”
Jadi Ilmu Kalam adalah Ilmu yang  membicarakan/membahas tentang masalah ketuhanan/ketauhidan (mengesakan Tuhan) dengan menggunakan dalil-dalil fikiran dan disertai alasan-alasan yang rasional.
B.      Nama-Nama Ilmu Kalam dan Sebab Penamaanya
a.       Ilmu Kalam
Membahas tentang ketuhanan yang logika maksudnya dalil-dalil aqliyah dari permasalahan sifat kalam bagi Allah. Ada beberapa alasan dinamai dengan Ilmu Kalam, di antaranya :
1)      Sebagian para ulama ketika menjelaskan berbagai persoalan dalam hal-hal akidah Islam itu dengan nama ilmu kalam, untuk membedakan dengan yang biasa digunakan oleh para filosof.
2)      Para ulama menyebutkan metodenya itu dengan sebutan al-kalam, sehingga mereka disebut ahlul kalam, sedang para filosof dapat disebut ahli mantiq.
3)      Pada abad ke 2 H, ada persoalan yang menggoncangkan umat Islam yaitu tentang persoalan kalamullah. Apakah al-Qur’an itu diciptakan atau bukan, baru (hadits) atau terdahulu (qodim).
b.      Ilmu Ushuluddin
Sebab penamaan ilmu ushuluddin terfokus pada akidah atau keyakinan Allah Swt. Atau yang membahas pokok-pokok dalil Agama.
c.       Ilmu Tauhid
Disebut ilmu tauhid karena membahas ke-Esaan Allah Swt.. baik menyangkut dzat, sifat dan perbuatan.
d.      Fiqh Al Akbar
Menurut Abu Hanifah hukum Islam yang dikenal dengan istilah fiqh terbagi menjadi
dua yaitu fiqh al akbar (pokok-pokok agama) dan fiqh al asghar (membahas hal-hal
yang berkaitan dengan masalah muamalah)
e.      Teologi Islam
Teologi Islam merupakan istilah yang diambil dari bahasa Inggris, theology yakni ilmu yang membahas masalah ketuhanan. Ilmu kalam disebut juga Ilmu Teologi karena Teologi membicarakan zat Tuhan dari segalah aspeknya.

C.      Ruang Lingkup Ilmu Kalam
Ruang lingkup permasalahan atau pokok permasalahan Ilmu Kalam menurut Hasan Al Banna, imeliputi persoalan-persoalan sebagai berikut :
1.       Ilahiyyah
Ilahiyyah adalah masalah yang berkaitan dengan ketuhanan. Aspek yang diperdebatkan antara lain:
a.       Sifat-sifat Tuhan
b.      Qudrat dan Iradat Tuhan
c.       Persoalan kemauan bebas manusia
d.      Masalah Al Qur’an, apakah makhluk atau tidak
2.       Nubuwwah
Nubuwwah adalah hubungan yang memperhatikan antara Allah dengan makhluk, di dalam hal ini membicarakan tentang hal-hal sebagai berikut:
a.       Utusan-utusan Tuhan atau petugas-petugas yang telah di tetapkan Tuhan melakukan pekerjaan tertentu yaitu Malaikat.
b.      Wahyu yang disampaikan Tuhan sendiri kepada para Rasul-Nya baik secara langsung maupun dengan perantara Malaikat.
c.       Para Rasul itu sendiri yang menerima perintah dari Allah untuk menyampaikan ajarannya kepada manusia.
3.       Ruhiyyah
Ruhiyyah adalah kajian tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan alam metafisik seperti malaikat, jin, iblis, setan, roh dan lain sebagainya.
4.       Sam’iyyah
Sam’iyyah adalah persoalan-persoalan yang berkenaan dengan kehidupan sesudah mati yang meliputi hal-hal sebagai berikut:
a.       Kebangkitan manusia kembali di akhirat
b.      Hari perhitungan
c.       Persoalan shirat (jembatan)
d.      Persoalan yang berhubungan dengan tempat pembalasan yaitu surga atau neraka
D.      Peran Dalil dalam Ilmu Kalam
a.       Naqli
AlQur’an dan Hadits merupakan sumber utama yang menerangkan tentang wujud Allah, sifat-sifat-Nya, perbuatan-perbuatan-Nya dan permasalahan akidah Islamiyah uang lainnya. Para mutakallim tidak pernah lepas dari nash-nash Al-Qur’an dan hadits ketika berbicara masalah ketuhanan. Masing-masing kelompok dalam ilmu kalam mencoba memahami dan menafsirkan Al-Qur’an dan Hadits lalu kemudian menjadikannya sebagai penguat argumentasi/ logika mereka.
Sebagai sumber ilmu kalam. Al-Qur’an banyak menyinggung hal yang berkaitan dengan masalah ketuhanan, di antaranya : QS. AlIkhlas: 3-4, QS Al-Furqan: 59, QS An Nisa: 125, QS Al Anbiya: 92.
Hadits Nabi Saw. yang membicarakan masalah masalah yang dibahas dalam ilmu kalam. Di antaranya adalah hadits Nabi Saw. yang menjelaskan tentang hakikat keimanan.
b.      Aqli
Kata ‘aql dalam bahasa Arab mempunyai beberapa arti, di antaranya: Addiyah (denda), alhikmah (kebijakan), husnut tasharruf (tindakan yang baik atau tepat). Secara terminologi, ‘aql digunakan untuk dua pengertian:
1)      Akal merupakan ‘ardh atau bagian dari indera yang ada dalam diri manusia yang bisa ada dan bisa hilang.
2)      Akal adalah insting yang diciptakan Allah kemudian diberi muatan tertentu berupa kesiapan dan kemampuan yang dapat melahirkan sejumlah aktivitas pemikiran yang berguna bagi kehidupan manusia.
Ajaran Islam mendorong penggunaan akal untuk digunakan dalam kaitanya dengan hal yang bersifat positif/ baik, seperti Allah menciptakanya untuk manusia. Beberapa dalil yang menjadi dasar penggunaan akal adalah
1)      Akal merupakan syarat yang harus ada dalam diri manusia untuk dapat menerima taklif (beban kewajiban) dari Allah.
2)      Allah mencela orang yang tidak menggunakan akalnya. Seperti, celaan Allah terhadap ahli Neraka yang tidak menggunakan akalnya. Seperti dalam QS. Al-Mulk: 10.
3)      Adanya ungkapan dalam Al Qur’an yang mendorong penggunaan akal. Ungkapan Al Qur’an tersebut misalnya, tadabbur, tafakkur, ta’aqqul dan lainnya. Maka kalimat seperti la’allakum tatafakkaruun (mudah-mudahan kamu berfikir), atau afalaa ta’qiluun (apakah kamu tidak berakal), dan jugaafalaa yatadabbaruunal Qur’an (apakah mereka tidak mentadabburi/merenungi isi kandungan Al Qur’an) dan lainnya.
4)      Islam memuji orang-orang yang menggunakan akalnya dalam memahami dan mengikuti kebenaran, seperti QS. Al Mujadalah: 11.
5)      Islam mencela taqlid yang membatasi dan melumpuhkan fungsi dan kerja akal. Perbedaan antara taqlid dan ittiba’ adalah sebagaimana telah dikatakan oleh Imam Ahmad bin Hanbal, Ittiba’ adalah seseorang mengikuti apa-apa yang datang dari Rasulullah, sedang taqlid menerima apa adanya tanpa mengetahui dasar dan latar belakangnya.

E.       Fungsi Ilmu Kalam
1.       Untuk menolak akidah yang sesat dengan berusaha menghindari  tantangan-tantangan dengan cara memberikan penjelasan duduk perkaranya timbul pertentangan itu, selanjutnya membuat suatu garis kritik sehat berdasarkan logika.
2.       Memberikan penguatan landasan keimanan umat Islam melalui pendekatan filosofis dan logis, sehingga kebenaran kebenarann Islam tidak saja dipahami secara dogmatis (diterima apa adanya) tetapi bisa juga dipaparkan secara rasional.
3.       Menopang dan menguatkan sistem nilai ajaran Islam yang terdiri atas tiga pokok, yaitu iman sebagai landasan akidah, Islam sebagai manifestasi syariat, ibadah, dan muamalah, serta ihsan sebagai aktualisasi akhlak.
4.       Menjawab problematika penyimpangan teologi agama lain yang dapat merusak akidah umat Islam, khususnya ketika Islam bersinggung dengan teologi agama lain dalam masyarakat yang heterogen (berbeda-beda).

F.       Hubungan Ilmu Kalam dengan Ilmu Lain
1.       Persamaan dan Perbedaan Ilmu Kalam, Ilmu TaSawuf dan Ilmu Filsafat
Ilmu kalam, filsafat, dan tasawuf mempunyai kemiripan objek kajian. Objek kajian ilmu kalam adalah ketuhanan dan segala sesuatu yang berkaitan dengan-Nya. Objek kajian filsafat adalah masalah ketuhanan disamping masalah alam, manusia, dan  segala sesuatu yang ada. Sedangkan objek kajian taSawuf adalah Tuhan, yakni upaya-upaya pendekatan terhadap-Nya. Jadi dilihat dari objeknya ketiga ilmu itu membahas tentang ketuhanan.
Perbedaan antara ketiga ilmu tersebut terletak pada aspek metodologinya. Ilmu kalam, sebagai ilmu yang menggunakan logika (aqliyah landasan pemahaman yang cenderung menggunakan metode berfikir filosofis) dan argumentasi naqliyah yang berfungsi untuk mempertahankan keyakinan ajaran agama. Sementara filsafat  adalah sebuah ilmu yang digunakan untuk memperoleh kebenaran rasional. Filsafat menghampiri kebenaran dengan cara menuangkan akal budi secara radikal (mengakar) dan integral (menyeluruh) serta universal (mendalam) dan terikat logika. Sedangkan ilmu taSawuf mealalui penghayatan yang mendalam lewat hati (dzauq).
2.       Korelasi antara Ilmu Kalam dengan Filsafat, Tasawuf, dan Fiqih
a.       Ilmu Kalam dengan Filsafat
1)      Ilmu kalam merupakan bagian atau ruang lingkup dari terutama filsafat Islam karena persoalan-persoalan ketuhanan meluas yang dalam kenyataanya penggunaan dalil aqli melebihi dalil naqli
2)      Filsafat dijadikan sebagai alat untuk membenarkan nash agama. Filsafat mengawali pembuktiannya dengan argumentasi akal, barulah pembenarannya diberikan wahyu sedangkan ilmu kalam mencari wahyu yang berbicara tentang keberadaan Tuhan dan sifat-sifatNya baru kemudian didukung olehargumentasi akal.
b.      Ilmu Kalam dengan Imu Tasawuf
1)      Dalam kaitannya dengan ilmu kalam, ilmu tasawuf berfungsi sebagai:
a)      Pemberi wawasan spiritual dalam pemahaman kalam
b)      Penghayatan yang mendalam lewat hati (dzauq) terhadap ilmu tauhid dan ilmu kalam agar lebih terhayati atau teraplikasikan dalam perilaku.
c)       Penyempurnaan ilmu tauhid (Ilmu Tasawuf merupakan sisi terapan rohaniyah dari ilmu tauhid)
d)      Pemberi kesadaran rohaniah dan perdebatan-perdebatan kalam agar ilmu kalam tidak dikesani sebagai dialetika keIslaman belaka, yang kering dari kesadaran penghayatan atau sentuhan secara qalbiyah (hati).
2)      Dalam kaitannya dengan Ilmu Tasawuf, Ilmu kalam berfungsi sebagai pengendali ilmu tasawuf. Oleh karena itu, jika timbul suatu aliran yang bertentangan dengan akidah, atau lahir suatu kepercayaan baru yang bertentangan dengan al-Qur’an dan hadits.
c.       Ilmu Kalam dengan Fiqih dan Ushu Fiqih
Ilmu kalam membahas soal-soal dasar dan pokok, pandangan lebih luas, tinjauan dapat memberi sikap toleran, member keyakinan yang mendalam berdasarkan pada landasan yang kuat sedangkan Fiqh membahas soa furu’ atau cabang.
Dalam memahami dan menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an yang berkenaan dengan hukum diperlukan ijtihad yaitu suatu usaha dengan mempergunakan akal dan prinsip kelogisan untuk mengeluarkan ketentuan hukum dari sumbernya. Begitupun madzhab-madzhab dalam fiqih adanya perbedaan dikarenakan kemampuan akal dalam menginterpretasikan teks al-Qur’an dan hadits.

Comments

Popular posts from this blog

Strategi dakwah dan Peran Walisanga terhadap Peradaban Indonesia

  A. Strategi Dakwah Walisanga 1. Maulana Malik Ibrahim Maulana Malik Ibrahim pada awal dakwahnya menggunakan pendekatan kekeluargaan dengan menawarkan putrinya untuk diperistri Raja Majapahit. Upaya ini rupanya tidak berhasil, karena belum sampai tujuan, rombongan terkena serangan penyakit hingga banyak yang meninggal.Namun demikian tantangan ini rupanya tidak menyurutkan tekad Maulana   Malik Ibrahim untuk berdakwah untuk mengislamkan kerajaan Majapahit. Pada langkah berikutnya Maulana Malik Ibrahim mengambil jalur pendidikan dengan mendirikan pesantren. Dinamakan pesantren karena merupakan tempat belajar para santri. Upaya pendidikan di pesantren olehSyaikh Maulana Malik Ibrahim dimaksudkan untuk menampung dan menjawab permasalahan-permasalahan sosial keagamaan serta menghimpun santri. Karena komitmen dan konsistensinya dalam mendakwahkan Islam, Maulana Malik Ibrahim dipandang sebagai “Bapak (Ayah) Spiritual Walisanga”. 2. Sunan Ampel (Raden Rahmatullah) Dalam tahap...

Sejarah Ilmu Kalam

SEJARAH ILMU KALAM A.       Aqidah dari Masa ke Masa 1.        Aqidah Masa Rasulullah Ketika Nabi Muhammad Saw. masih hidup, umat Islam masih bersatu-padu, belum ada aliran-aliran/firqah. Apabila terjadi perbedaan pemahaman terhadap suatu persoalan, maka para sahabat langsung berkonsultasi kepada Nabi. Dengan petunjuk Nabi tersebut, maka segala persoalan dapat diselesaikan dan para sahabat mematuhinya. Semangat persatuan sangat dijaga oleh para sahabat, karena selalu berpegang kepada firman Allah:   وَأَطِيعُوا۟ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ وَلَا تَنَٰزَعُوا۟ فَتَفْشَلُوا۟ وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ ۖ Artinya: “Dan taatilah kamu sekalian kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, karena semua itu akan menyebabkan kalian gagal”. (QS. Al-Anfâl [8]: 46) Para sahabat dilarang oleh Rasulullah Saw. memperdebatkan sesuatu yang dapat memicu perpecahan. Sehingga pada masa ini, corak aqidah bersifat monopolitik, y...

Kebudayaan dan Kondisi Masyarakat Madinah Sebelum Islam

  Kebudayaan dan Kondisi Masyarakat Madinah Sebelum Islam Madinah pada mulanya bernama Yasrib, dinamakan Yasrib karena orang pertama yang tinggal di kota ini bernama Yasrib bin Qa’id bin Ubail bin Aus bin Amaliq bin Lawudz bin Iram, salah seorang anak keturunan Sam, putra Nabi Nuh a.s. kota ini sudah terbentuk kurang lebih 1600 tahun sebelum masehi. Kota Yasrib berjarak sekitar 300 mil sebelah utara kota Makkah, merupakan kota yang makmur dan subur dengan pertaniannya. Sebagai pusat pertanian, kota ini menjadi menarik bagi penduduk kota lain untuk berpindah kesana. Kota Yasrib dikelilingi oleh gunung berbatu, disini terdapat banyak lembah, atau yang paling terkenal dengan nama Wadi. Persawahan dan perkebunan yang subur menjadi sandaran hidup penduduk setempat. Penghasilan terbesarnya adalah anggur dan kurma, tidak mengherankan jika kurma terbaik di dunia terdapat di kota ini. Luas kota Yasrib kala itu hanya sekitar 15 km dan sekarang sudah berkembang menjadi 293 km dengan batas...