DAKWAH PERIODE MEKKAH
(1)
A.
Kebudayaan Masyarakat
Mekkah Sebelum Islam
Para ahli
sejarah menyebut masa sebelum kehadiran Islam yang dibawa oleh Rasulullah Saw
sebagai masa jahiliyah. Secara bahasa masa jahiliyah berasal dari kata jahil,
yang diturunkan dari kata dasar Arab jahala yang berarti bodoh.
Zaman jahiliyah
ini terdiri atas dua periode yaitu jahiliyah periode pertama dan jahiliyah
periode kedua. Jahiliyah periode pertama meliputi masa yang sangat
panjang, tetapi tidak banyak yang bisa diketahui hal ihwalnya dan sudah lenyap
sebagian masyarakat pendukungnya. Adapun jahiliyah periode kedua
berlangsung kira-kira sekitar 150 tahun sebelum Islam lahir. Jahiliyah periode
kedua inilah yang kita kenal hingga sekarang.
Bangsa Arab
sebelum Islam sudah mengenal dasar-dasar beberapa cabang ilmu pengetahuan,
bahkan dalam hal seni sastra mereka telah mencapai tingkat kemajuan pesat.
Negeri Arab adalah sebuah semenanjung di ujung barat daya benua Asia. Di sebelah
utara berbatasan dengan Syam, Palestina, dan al-Jazirah. Di sebelah selatan berbatasan
dengan Teluk Aden dan Samudra India. Di sebelah timur berbatasan dengan Teluk
Oman dan Teluk Persia; dan di sebelah barat berbatasan dengan Selat Bab Al-Mandib,
Laut Merah dan Terusan Zues.
Keadaan Arab
khususnya daerah Makkah terdiri atas gurun pasir yang panas dan gersang. Hal
ini mempengaruhi sikap dan perilaku masyarakat Makkah sehingga tercermin dalam
kehidupan sosial budaya mereka. Orang-orang Makkah dikenal sebagai bangsa pengembara
yang nomaden. Mereka sering berpindah pindah dengan mengandalkan kendaraan yang
berupa unta dan kuda.
Kebiasaan
menggembara membuat orang-orang Arab Makkah senang hidup bebas tanpa aturan dan
hukum yang dapat mengikat mereka sehingga mereka menjunjung tinggi nilai-nilai
kebebasan. Mereka senang hidup mengelompok yang tergabung dalam kabilah atau
suku yang sangat banyak jumlahnya.
Kekuatan,
keperkasaan, keuletan dan keberanian merupakan modal utama untuk dapat bertahan
di alam gurun pasir. Mereka tidak menyukai anak-anak wanita karena wanita
dinilai makhluk lemah, tidak mampu berperang, dan tidak kuat melakukan pekerjaan
yang berat. Seakan suatu bencana besar dan sebagai aib jika tidak mempunyai
anak laki-laki.
Namun, selain
memiliki watak, perangai, dan perilaku keras, penduduk arab mempunyai jiwa seni
sastra yang tinggi, terutama dalam bentuk syair dan sajak. Kepandaiannya dalam
mengubah sajak atau syair merupakan kebanggaan orang Arab. Para penyair
kenamaan sangat dikagumi dan dihormati. Dari segi keyakinan, bangsa Arab pada
masa jahiliyah terbagi menjadi beberapa golongan:
1. Golongan yang mengingkari Sang Pencipta dan hari kebangkitan.
Mereka percaya bahwa alam, masa, dan waktulah yang membinasakan segalanya
seperti yang termaktub dalam QS al.Jatsiyah [45] :24.
2. Golongan yang mengakui adanya Tuhan, tetapi walaupun mengakui
adanya Tuhan, namun mengingkari adanya hari kebangkitan, seperti yang termaktub
dalam QS al-Qaaf [50] :15.
3. Golongan yang menyembah berhala, biasanya masing-masing kabilah
memiliki berhala sendiri-sendiri. Kabilah Kalab di Daumatul Djandal misalnya,
mereka mempunyai berhala Wad, kabilah Huzdail mempunyai berhala Suwa’Kabilah Madzhaj
dan kabilah-kabilah di Yaman semuanya menyembah Yaghuts dan Ya’uq, Kabilah
Tsaqif di Thaif menyembah Latta, Kabilah Qurays di Kinanah menyembah Uzza.
Kabilah Aus dan Khazraj menyembah Manat, dan sebagai pemimpin dari semua
berhala adalah Hubal yang ditempatkan di samping sisi Ka’bah
4. Golongan yang lain adalah golongan yang cenderung mengikuti
ajaran Yahudi, Nasrani, dan Shabiah, ada pula yang menyembah malaikat atau jin.
Label
jahiliyah yang diberikan kepada bangsa Arab pra Islam, bukan berarti tidak ada kebaikan
sama sekali dalam kehidupan mereka. Bangsa Arab masih memiliki akhlakakhak mulia
dan budaya positif yang menyejukkan dan menakjubkan akal manusia, Diantara
perkembangan kebudayaan masyarakat Arab pra Islam:
1) Tradisi keilmuan
Bangsa Arab pra
Islam telah mampu mengembangkan ilmu pengetahuan, terbukti dengan dikembangkannya
ilmu astronomi yang ditemukan oleh orang-orang Babilonia. Ilmu Astronomi ini
berkembang di Arab setelah bangsa Babilonia diserang oleh bangsa Persia
kemudian mengenalkan ilmu astronomi ini kepada orang-orang Arab pada masa itu.
Selain astronomi mereka juga pandai dalam ilmu nasab, ilmu rasi-rasi bintang,
tanggal-tanggal kelahiran dan ta’bir mimpi.
2) Berdagang
Masyarakat Arab
yang tinggal di perkotaan atau disebut ahlul-hadar, mereka hidup dengan
berdagang. Kehidupan sosial ekonominya sangat ditentukan oleh keahlian mereka
dalam berdagang. Mereka melakukan perjalanan dagang dalam dua musim selama
setahun, pada musim panas pergi ke Negeri Syam (Syiria) dan pada musim dingin
mereka pergi ke negeri Yaman. Pada masa itu sudah berdiri sebuah pasar yang diberi
nama pasar Ukaz. Pasar Ukaz dibuka pada bulan-bulan bertepatan dengan waktu
pelaksanaan ibadah haji, yaitu; bulan Dzulkaidah, Zulhijjah dan Muharam.
3) Bertani
Masyarakat Arab
yang tinggal di pedalaman yaitu masyarakat Badui, mata pencahariannya adalah
dengan bertani dan beternak. Kehidupan mereka nomaden, hidup mereka
berpindah-pindah dari satu lembah ke lembah yang lain untuk mencari rumput bagi
hewan mereka. Masyarakat yang hidup di daerah yang subur, mereka bercocok tanam
dan hidup di sekitar oase seperti Thaif. Mereka menanam buahbuahan dan
sayur-sayuran.
4) Bersyair
Pasar Ukaz tidak
hanya menyediakan barang dagangan berupa perniagaan dan kebutuhan sehari-hari
saja, tetapi juga pagelaran kesenian seperti qashidah-qashidah gubahan
sastrawan Arab. Syair menjadi salah satu budaya tingkat tinggi yang berkembang
pada masa Arab pra Islam. syair juga dapat menjadikan seseorang atau kabilah
tertentu menjadi kabilah terbelakang atau kabilah yang terhormat. Syair menjadi
masalah mafakhir (kebanggaan) mereka dalam kehidupan sosialnya. Selain bersyair, mereka juga terbiasa
menuliskan kata-kata hikmah dalam setiap bangunan agung yang mereka dirikan
untuk dijadikan peringatan dan diambil hikmahnya bagi generasi selanjutnya.
Orang Arab saat itu berloba-lomba dan membanggakan
sikap dermawan. Separuh syair-syair mereka diisi dengan pujian dan sanjungan
terhadap kedermawanan
5) Menghormati Tamu
Kehidupan sosial
bangsa Arab pra Islam terkenal pemberani dalam membela pendiriannya, mereka
tidak mau mengubah pendirian yang sudah mengakar dalam kehidupan mereka.
Salah satunya adalah menghormati dan
memulaiakan tamu, menghormati tamu adalah bagian dari menjunjung tinggi sikap
dermawan yang mereka miliki, mereka berlomba-lomba untuk memuliakan tamu dengan
segala harta benda meraka. Bangsa Arab pra Islam rela untuk berkorban harta
bendanya hanya untuk memuliakan tamu. Pernah ada seorang laki-laki yang kedatangan
tamu di rumahnya, sementara dia tidak memiliki apa-apa selain onta yang menjadi
tumpuan hidupnya. Ia rela menyembelih untanya hanya demi untuk menjamu tamunya.
6)
Menepati Janji
Bagi orang Arab, janji adalah hutang yang
harus mereka bayar. Melanggar janji adalah aib bagi hidup mereka, bahkan dalam
sebuah kisah Hani bin Mas’ud bin Mas’ud asy-Syaibani hanya demi sebuah janji
mereka rela membinasakan keturunan mereka dan menghancurkan rumah demi memenuhi
sebuah janji.
Comments
Post a Comment