KERUNTUHAN DINASTI ABASIYAH
Dinasti
Bani Abbasiyah, sebagai dinasti kedua dalam sejarah pemerintahan umat Islam
setelah dinasti Bani Umayyah, dalam sejarah perjalanannya mengalami fase-fase
yang sama dengan dinasti Umayyah, yakni fase kelahiran, perkembangan, kejayaan,
kemudian memasuki masa-masa sulit dan akhirnya mundur dan jatuh.
Kemunduran
dan kehancuran Dinasti Abbasiyah yang menjadi awal kemunduran dunia Islam
terjadi dengan proses kausalitas sebagaimana yang dialami oleh dinasti
sebelumnya. Konflik internal, ketidak mampuan khalifah dalam mengkonsolidasi
wilayah kekuasaannya, budaya hedonis yang melanda keluarga istana dan
sebagainay, disamping itu juga terdapat ancaman dari luar seperti serbuan
tentara salib ke wilayah-wilayah Islam dan serangan tentara Mongol yang
dipimpin oleh Hulagu Khan. Dalam makalah ini penulis akan membahas sebab-sebab
kemunduran dan kehancuran Dinasti Abbasiyah serta dinamikanya.
A.
Faktor
Internal
1.
Perebutan Kekuasaan di Pusat Pemerintahan (Persaningan
antar Bangsa)
Khilafah Abbasiyah didirikan oleh Bani Abbas yang
bersekutu dengan orang-orang Persia. Persekutuan
dilatar belakangi oleh persamaan nasib kedua golongan itu pada masa Bani Umayyah berkuasa.
Keduanya sama-sama tertindas. Setelah khilafah Abbasiyah berdiri, dinasti Bani
Abbas tetap mempertahankan persekutuan itu. Menurut Ibnu Khaldun, ada dua
sebab dinasti Bani Abbas memilih orang-orang Persia daripada
orang-orang Arab. Pertama,
sulit bagi orang-orang Arab untuk
melupakan Bani Umayyah. Pada masa itu mereka merupakan warga kelas
satu. Kedua, orang-orang Arab sendiri
terpecah belah dengan adanya ashabiyah (kesukuan). Dengan demikian, khilafah
Abbasiyah tidak ditegakkan di atas ashabiyah tradisional.
Meskipun demikian, orang-orang Persia tidak
merasa puas. Mereka menginginkan sebuah dinasti dengan raja dan pegawai dari
Persia pula. Sementara itu bangsa Arab beranggapan
bahwa darah yang mengalir di tubuh mereka adalah darah (ras) istimewa dan
mereka menganggap rendah bangsa non-Arab ('ajam) di dunia Islam.
Fanatisme kebangsaan ini nampaknya dibiarkan berkembang
oleh penguasa. Sementara itu, para khalifah menjalankan sistem perbudakan baru.
Budak-budak bangsa Persia atau Turki dijadikan
pegawai dan tentara. Khalifah Al-Mu’tashim (218-227 H) yang memberi peluang
besar kepada bangsa Turki untuk masuk dalam pemerintahan. Mereka di diangkat
menjadi orang-orang penting di pemerintahan, diberi istana dan rumah dalam
kota. Merekapun menjadi dominan dan menguasai tempat yang mereka diami.
Setelah al-Mutawakkil (232-247 H), seorang Khalifah yang
lemah, naik tahta, dominasi tentara Turki semakin
kuat, mereka dapat menentukan siapa yang diangkat jadi Khalifah. Sejak itu
kekuasaan Bani Abbas sebenarnya sudah berakhir. Kekuasaan berada di tangan
orang-orang Turki. Posisi ini
kemudian direbut oleh Bani Buwaih, bangsa Persia, pada
periode ketiga (334-447), dan selanjutnya beralih kepada Dinasti Seljuk, bangsa
Turki pada periode keempat (447-590H).[3]
2.
Munculnya Dinasti-Dinasti Kecil Yang
Memerdekakan Diri
Wilayah kekuasaan Abbasiyah pada periode pertama hingga
masa keruntuhan sangat luas, meliputi berbagai bangsa yang berbeda, seperti Maroko, Mesir, Syria, Irak, Persia, Turki dan India. Walaupun
dalam kenyataannya banyak daerah yang tidak dikuasai oleh Khalifah, secara
riil, daerah-daerah itu berada di bawah kekuasaaan gubernur-gubernur
bersangkutan. Hubungan dengan Khalifah hanya ditandai dengan pembayaran upeti. Ada
kemungkinan penguasa Bani Abbas sudah cukup puas dengan pengakuan nominal,
dengan pembayaran upeti. Alasannya, karena Khalifah tidak cukup kuat untuk
membuat mereka tunduk, tingkat saling percaya di kalangan penguasa dan
pelaksana pemerintahan sangat rendah dan juga para penguasa Abbasiyah lebih
menitik beratkan pembinaan peradaban dan kebudayaan daripada politik dan
ekspansi. Selain itu, penyebab utama mengapa banyak daerah yang memerdekakan
diri adalah terjadinya kekacauan atau perebutan kekuasaan di pemerintahan pusat
yang dilakukan oleh bangsa Persia dan Turki. Akibatnya propinsi-propinsi
tertentu di pinggiran mulai lepas dari genggaman penguasa Bani Abbas. Dinasti
yang lahir dan memisahkan diri dari kekuasaan Baghdad pada masa khilafah
Abbasiyah, di antaranya adalah
a.
Yang berkembasaan Persia: Thahiriyyah di
Khurasan (205-259 H), Shafariyah di Fars (254-290 H), Samaniyah di Transoxania
(261-389 H), Sajiyyah di Azerbaijan (266-318 H), Buwaihiyyah, bahkan menguasai
Baghdad (320-447).
b.
Yang berbangsa Turki: Thuluniyah di Mesir
(254-292 H), Ikhsyidiyah di Turkistan (320-560 H), Ghaznawiyah di Afganistan
(352-585 H), Dinasti Seljuk dan cabang-cabangnya
c.
Yang berbangsa Kurdi: al-Barzukani (348-406
H), Abu Ali (380-489 H), Ayubiyah (564-648 H).
d.
Yang berbangsa Arab: Idrisiyyah di Marokko
(172-375 h), Aghlabiyyah di Tunisia (18-289 H), Dulafiyah di Kurdistan (210-285
H), Alawiyah di Tabaristan (250-316 H), Hamdaniyah di Aleppo dan Maushil
(317-394 H), Mazyadiyyah di Hillah (403-545 H), Ukailiyyah di Maushil (386-489
H), Mirdasiyyah di Aleppo 414-472 H).
e.
Yang Mengaku sebagai Khalifah : Umawiyah di
Spanyol dan Fatimiyah di Mesir.[7]
3.
Kemerosotan Perekonomian
Pada periode pertama, pemerintahan Bani Abbas merupakan
pemerintahan yang kaya. Dana yang masuk lebih besar dari yang keluar,
sehingga Baitul-Mal penuh dengan harta. Perekonomian
masyarakat sangat maju terutama dalam bidang pertanian, perdagangan dan
industri. Tetapi setelah memasuki masa kemunduran politik, perekonomian pun
ikut mengalami kemunduran yang drastis.
Setelah khilafah memasuki periode kemunduran ini,
pendapatan negara menurun sementara pengeluaran meningkat lebih besar.
Menurunnya pendapatan negara itu disebabkan oleh makin menyempitnya wilayah
kekuasaan, banyaknya terjadi kerusuhan yang mengganggu perekonomian rakyat.
diperingannya pajak dan banyaknya dinasti-dinasti kecil yang memerdekakan diri
dan tidak lagi membayar upeti. Sedangkan pengeluaran membengkak antara lain
disebabkan oleh kehidupan para khalifah dan pejabat semakin mewah. jenis
pengeluaran makin beragam dan para pejabat melakukan korupsi.
Kondisi politik yang tidak stabil menyebabkan
perekonomian negara morat-marit. Sebaliknya, kondisi ekonomi yang buruk
memperlemah kekuatan politik dinasti Abbasiyah, faktor ini saling berkaitan dan
tak terpisahkan.
4.
Munculnya Aliran-Aliran Sesat dan Fanatisme
Keagamaan
Karena cita-cita orang Persia tidak
sepenuhnya tercapai untuk menjadi penguasa, maka kekecewaan itu mendorong
sebagian mereka mempropagandakan ajaran Manuisme, Zoroasterisme dan Mazdakisme. Munculnya gerakan yang dikenal dengan
gerakan Zindiq ini
menggoda rasa keimanan para khalifah.
Khalifah Al-Manshur yang berusaha keras memberantasnya,
beliau juga memerangi Khawarij yang mendirikan Negara Shafariyah di Sajalmasah
pada tahun 140 H.[10] Setelah al Manshur wafat digantikan oleh putranya Al-Mahdi yang
lebih keras dalam memerangi orang-orang Zindiq bahkan
beliau mendirikan jawatan khusus untuk mengawasi kegiatan mereka serta
melakukan mihnah dengan
tujuan memberantas bid'ah. Akan tetapi, semua itu tidak menghentikan
kegiatan mereka. Konflik antara kaum beriman dengan golongan Zindiq berlanjut
mulai dari bentuk yang sangat sederhana seperti polemik tentang ajaran, sampai
kepada konflik bersenjata yang menumpahkan darah di kedua belah pihak.
Gerakan al-Afsyin dan Qaramithah adalah contoh konflik bersenjata itu.
Pada saat gerakan ini mulai tersudut, pendukungnya banyak
berlindung di balik ajaran Syi'ah, sehingga banyak aliran Syi'ah yang
dipandang ghulat (ekstrim)
dan dianggap menyimpang oleh penganut Syi'ah sendiri. Aliran Syi'ah memang dikenal
sebagai aliran politik dalam Islam yang
berhadapan dengan paham Ahlussunnah. Antara keduanya sering terjadi konflik yang
kadang-kadang juga melibatkan penguasa. Al-Mutawakkil, misalnya, memerintahkan agar makam Husein Ibn Ali di Karballa dihancurkan.
Namun anaknya, al-Muntashir (861-862 M.), kembali memperkenankan
orang syi'ah "menziarahi" makam Husein
tersebut. Syi'ah pernah berkuasa di dalam khilafah
Abbasiyah melalui Bani Buwaih lebih dari seratus tahun. Dinasti Idrisiyah di Marokko dan
khilafah Fathimiyah di Mesir adalah
dua dinasti Syi'ah yang memerdekakan diri dari Baghdad yang Sunni.
B.
Faktor
Eksternal
Kekalahan tentara Romawi telah menanamkan benih
permusuhan dan kebencian orang-orang kristen terhadap ummat Islam. Kebencian itu
bertambah setelah Dinasti Saljuk yang menguasai Baitul Maqdis menerapkan
beberapa peraturan yang dirasakan sangat menyulitkan orang-orang Kristen yang
ingin berziarah kesana. Oleh karena itu pada tahun 1095 M, Paus Urbanus II
menyerukan kepada ummat kristen Eropa untuk melakukan perang suci, yang
kemudian dikenal dengan nama Perang Salib. Perang salib yang berlangsung dalam
beberapa gelombang atau periode telah banyak menelan korban dan menguasai
beberapa wilaya Islam. Setelah melakukan peperangan antara tahun 1097-1124 M
mereka berhasil menguasai Nicea, Edessa, Baitul Maqdis, Akka, Tripoli dan kota
Tyre.
Pada periode pertama tentara Perang Salib banyak menguasi
kota-kota Islam, termasuk Yerussalem.
Pada periode ke dua, dalam Islam muncul Imaduddin Zanki
yang mampu menghalang tentara Salib. Yang kemudian digantikan oleh putranya
Nuruin Zanki. Sete;ah beliay wafat digantikan oleh Salahudiin AL Ayubi.
Salahudiin dikenal sebagai panglima yang pemberani dan bijak. Beliau dapat
merebut kembali Yerussalem dari pasukan salib.
2. Serangan Mongolia ke Negeri Muslim dan Berakhirnya
Dinasti Abbasiyah
Orang-orang Mongolia adalah bangsa yang berasal dari Asia
Tengah. Sebuah kawasan terjauh di China. Terdiri dari kabilah-kabilah yang
kemudian disatukan oleh Jenghis Khan (603-624 H). Sebagai awal
penghancuran Bagdad dan Khilafah Islam, orang-orang Mongolia menguasai
negeri-negeri Asia Tengah Khurasan dan Persia dan juga menguasai Asia Kecil.
Pada bulan September 1257, Hulagu mengirimkan ultimatum kepada Khalifah agar
menyerah dan mendesak agar tembok kota sebelah luar diruntuhkan. Tetapi
Khalifah tetap enggan memberikan jawaban. Maka pada Januari 1258, Hulagu khan
menghancurkan tembok ibukota. Sementara itu Khalifah al-Mu’tashim langsung
menyerah dan berangkat ke base pasukan mongolia. Setelah itu para pemimpin dan
fuqaha juga keluar, sepuluh hari kemudian mereka semua dieksekusi. Dan Hulagu
beserta pasukannya menghancurkan kota Baghdad dan membakarnya. Pembunuhan
berlangsung selama 40 hari dengan jumlah korban sekitar dua juta orang. Dan
Dengan terbunuhnya Khalifah al-Mu’tashim telah menandai babak akhir dari
Dinasti Abbasiyah.
Comments
Post a Comment