PERKEMBANGAN ISLAM
DI INDONESIA (1)
Jalur-jalur masuknya Islam ke Indonesia
A. Situasi Kondisi Pra Islam
Sebelum
kedatangan Islam pada abad XV dan XVI di wilayah Nusantara terjadi perubahan
sosial yang luar biasa. Perubahan sosial itu terjadi disebabkan oleh persebaran
agama Islam beserta sistem politiknya yang ditandai dengan adanya perubahan
keyakinan keagamaan dari masa kejayaan Hindu-Budha ke masa perkembangan agama
Islam. Pada saat bersamaan bermunculan kerajaan-kerajaan Islam menggantikan
posisi kerajaan Hindu-Budha. Perubahan-perubahan tersebut dilatarbelakangi
berbagai faktor diantaranya letak geografis, keyakinan masyarakat,
perekonomian, pemerintahan dan kesenian dan sastra. Gambaran situasi dan
kondisi wilayah Indonesia sebelum kedatangan agama Islam antara lain:
1.
Letak geografis
Indonesia terletak diantara 5° LU
sampai 11°LS dan 95° BT sampai 141° BT. Posisi itu menunjukkan bahwa wilayah
ini berada di daerah khatulistiwa. Beriklim tropis dengan curah hujan tinggi.
Iklim disertai angin musim menyebabkan adanya kemarau dan penghujan dengan
waktu yang berbeda-beda pada tiap-tiap wilayah. Keberadaan dua musim ini
memberikan pengaruh yang kompleks pada berbagai aspek kehidupan penduduk.
Pertanian, pelayaran dan perdagangan erat hubungannya dengan musim. Kaitannya
dengan perdagangan tidak dapat dilepaskan dari pelayaran. Sebagai wilayah
kepulauan dengan posisi sebagai penghubung jalur perdagangan daratan Asia
terutama antara Cina dan India menjadikan wilayah ini sebagai wilayah yang
strategis dalam jalur perdagangan antar-bangsa. Hal tersebut berdampak panjang
terhadap masa depan sejarah bangsa Indonesia.
2.
Keyakinan
Sebelum kedatangan Islam,
masyarakat Indonesia sudah menganut agama dan kepercayaan yang berbeda-beda
dalam kehidupannya. Agama yang berkembang saat itu adalah agama yang berpusat
pada kepercayaan adanya dewa-dewa. Dalam melaksanakan pemujaan terhadap
dewa-dewa dibuat artefak keagamaan berupa bangunan atau relik. Agama
Hindu-Budha berkembang pada masa kerajaan Majapahit ditandai dengan bangunan candi
yang tersebar di beberapa wilayah dengan arca-arcanya, prasasti dan kitab-kitab
juga memberikan gambaran yang jelas terhadap potret keagamaan pada saat itu. Di
wilayah yang lain dimana masyarakat tidak tersentuh agama Hindu-Budha, mereka
masih mempertahankan Agama asli yaitu kepercayaan kepada roh-roh yang mendiami
benda-benda seperti pohon, batu, sungai, gunung) dan dinamisme (kepercayaan
bahwa segala sesuatu mempunyai tenaga atau kekuatan yang dapat mempengaruhi
keberhasilan atau kegagalan usaha manusia dalam mempertahankan hidup), dan
lain-lain. Kepercayaan ini telah tumbuh dan berkembang sebelum agama
Hindu-Budha masuk ke Indonesia.
3.
Politik dan Pemerintahan
Bukti-bukti tentang politik dan
pemerintahan pada masa kerajaan Majapahit dengan menggunakan data-data yang
telah didapatkan dari prasasti maka dapat dikemukakan bahwa bangsa Indonesia
telah mengenal system politik dan pemerintahan jauh sebelum Islam masuk ke
Indonesia. Prasasti dari Kutai yang selama ini masih menjadi patokan babak
dimulainya masa sejarah Indonesia dapat memberikan gambaran akan adanya system pemerintahan
masa lalu. Sedangkan struktur pemerintahan mulai dapat dilacak sejak masa
Sriwijaya. Sejumlah prasasti menyebutkan adanya pelaksanaan dari keputusan raja
dilengkapi dengan perincian saksi dan imbalan-imbalan yang diterimanya. Bukti
sejarah yang tertulis dan cukup memadai di antaranya adalah Nagara Kartagama.
Tulisan ini tidak lagi hanya ditulis berdasarkan pandangan tentang hal-hal yang
bersifat mistis serta mitologis, tetapi juga memuat gambaran nyata tentang
kondisi sosial budaya, politik, ekonomi kerajaan Majapahit. Setidaknya ini
memberikan gambaran yang lebih lengkap tentang politik dan pemerintahan masa
menjelang berdaulatnya sebuah pemerintahan bercorak Islam.
4.
Perekonomian dan
Perindustrian
Kumpulan rumah penduduk yang
tersebar di lembah-lembah sungai dan dataran-dataran pegunungan dengan segala
aktivitasnya merupakan pendukung utama keberlangsungan stabilitas ekonomi
pemerintahan. Daerah pedalaman adalah daerah agraris yang tertutup.
Perdagangan, sebagai satu aktivitas ekonomi dilakukan oleh golongan rakyat yang
harus berjalan dengan pedati atau sampan untuk transportasi dalam negeri.
Pertanian merupakan tulang punggung perekonomian sebagian besar pemerintahan
yang berdaulat di wilayah Nusantara. Hasil pertanian persawahan menjamin
stabilitas dan per sediaan makanan secara teratur. Hasil panen berasal dari
masyarakat desa dan dari berbagai wilayah kekuasaan lembaga agama (mandala),
atau tanah milik perseorangan atau kelompok yang dibebaskan dari pajak (sima). Upeti, pajak, dan kerja wajib diminta dari
penduduk untuk kepentingan pegawai atau rumah tangga raja. Dalam hal
perdagangan di Asia Tenggara. Menurut Van Leur, barang-barang yang
diperdagangkan adalah yang bernilai tinggi seperti logam mulia, perhiasan,
pecah belah, kain tenun, juga bahan -bahan baku untuk keperluan kerajinan. Dari
data arkeologis berupa sebaran temuan keramik di sepanjang pantai utara Jawa,
bahkan sampai pedalaman dan pulau Sumatera dan Sulawesi, hubungan dagang
wilayah ini dengan Cina telah terjalin sejak abad IX-X M. Sepanjang pantai
utara Jawa sejak abad IX M memegang peranan penting khususnya dalam bidang
ekonomi . Para pedagang asing yang datang sampai ke wilayah Majapahit berasal
dari Champa, Khmer, Thailand, Burma, Srilangka, dan India." Mereka
kemudian sebagian bermukim di Jawa dan bahkan ada beberapa diantaranya yang
kemudian ditarik pajak. Sekitar tahun 1249 M telah terdapat dua jalur pelayaran
dari dan ke Cina yaitu jalur pelayaran barat dan jalur pelayaran timur. Jawa
berada dalam jalur pelayaran barat meliputi Vietnam
Thailand-Malaysia-Sumatera-Jawa- Bali-Timor. Kapal dagang Cina berangkat lewat
jalur barat dan kembali ke Cina dengan menyusuri pantai barat daya Kalimantan.
Kehidupan perekonomian di bidang industri juga berkembang. Industri di sini
meliputi industri rumah tangga, kerajinan, dan industri logam. Ada istilah
undagi yang berkaitan dengan kepandaian, keahlian seseorang yang memerlukan
keahlian khusus, misalnya tukang kayu atau ahli bangunan. Dalam beberapa
prasasti Bali Kuno ditemukan beberapa ketrampilan membuat suatu benda (alat)
dengan istilah undagi seperti undagi lancang (pembuat perahu), undagi batu
(pemahat batu), undagi pengarung (pembuat terowongan), undagi kayu (tukang
kayu), undagi rumah (pembuat rumah). Selain itu ditemukan juga kelompok yang
disebut pande mas (pengrajin emas), pande wesi (pengrajin besi), pande tambra
(pengrajin tembaga), pande kangsa (pengrajin perunggu), pandedadap (pengrajin
tameng atau perisai) dan lain-lain.
5.
Sastra dan kesusastraan
Menurut Poerbatjaraka dan
Zoetmulder dimana dia telah berhasil menelisik sastra Jawa itu jauh ke masa
sebelum masuknya Islam ke Indonesia, pada masa Mataram Hindhu-Buddha. Kitab
Mahabharata dan Ramayana sangat mungkin telah digubah ke dalam bahasa Jawa-Kuna
pada permulaan abad X. Berinduk ke kedua kitab itu maka banyak ditemukan
gubahan-gubahan cerita yang sangat mungkin diambil sebagian atau utuh (sargga
dan parwwa) menjadi bentuk kakawin atau naskah-naskah yang lain. Bahkan
seringkali naskah-naskah tersebut disesuaikan dengan kemuliaan yang ingin
didapatkan oleh raja yang berkuasa ketika naskah itu digubah. Tiap -tiap daerah
ditemukan deretan naskah-naskah yang sangat penting sebagai sumber sejarah. Ada
Carita Parahyangan, Pararaton, Sutasoma, Nagara-kartagama, Arjunawiwaha, dan
masih banyak naskah dan kitab yang lain. Kehidupan kesusastraan ketika itu
tentunya juga tidak terlepas dari para pujangga sebagai penggubah dan pencipta
karya sastra. Kaitannya dengan hal ini peran para brahmana dan pemuka agama
sangat penting. Selain itu juga telah ditemukan adanya jabatan-jabatan yang
menunjukkan adanya indikasi sebagai penulis seperti cerita sang citralekha.
B. Jalur-jalur Masuknya Islam ke Indonesia
Penyebaran agama
Islam di Indonesia pada umumnya berlangsung melalui dua proses. Pertama,
penduduk pribumi berhubungan dengan agama Islam kemudian menganutnya. Kedua,
orang-orang Asing Asia, seperti Arab, India, dan Cina yang telah beragama Islam
bertempat tinggal secara permanen di satu wilayah Indonesia melakukan
perkawinan campuran dan mengikuti gaya hidup lokal. Setidak-tidaknya ada empat
teori tentang islamisasi awal di Indonesia, yaitu teori India, teori Arab,
teori Persia, dan teori Cina.
1.
Teori India
Teori ini dikemukan oleh Pijnappel, Moquette, Fatimi
dan seorang orientalis Belanda yang meneliti tentang Islam di Indonesia bernama
Snouck Hurgronje. Ia menyatakan bahwa agama Islam baru masuk ke Nusantara pada
abad ke-13 Masehi yang di bawa oleh para pedagang dari Cambay, Gujarat, India.
Memang sebagian besar sejarahwan asal Belanda, memegang teori bahwa Islam di
Indonesia berasal dari Anak Benua India. Sementara seorang ilmuwan Barat
Pijnappel yang mengkaitkan asal mula Islam di Indonesia dengan daerah Gujarat
dan Malabar. Menurutnya, orang-orang Arab bermadzhab Syafi’i yang bermigrasi
dan menetap di wilayah India yang membawa Islam ke Nusantara. Snouck Hurgronje
kemudian mengembangkan teori ini, dia berpendapat bahwa ketika Islam tiba di
beberapa kota pelabuhan Anak Benua India, banyak di antara penduduknya yang
beragama Islam dan tinggal di sana sebagai pedagang perantara dalam perdagangan
Timur Tengah dengan Indonesia. Lalu mereka datang ke dunia Melayu (Indonesia)
sebagai para penyebar Islam pertama, setelah itu disusul oleh orang-orang Arab.
Dia mengatakan bahwa abad ke-12 sebagai periode paling mungkin dari permulaan
penyebaran Islam di Indonesia. Jan Pijnappel (w.1901 M) adalah seorang
orientalis dari Universitas Leiden Belanda yang fokus pada manuskrip Melayu.
Dia menyatakan bahwa Islam masuk ke Indonesia lewat pedagang dari Gujarat.
Penjelasan ini didasarkan pada seringnya kedua wilayah India dan Indonesia ini
disebut dalam sejarah Nusantara klasik. Dalam penjelasan lebih lanjut, Pijnapel
menyampaikan logika terbalik, yaitu bahwa meskipun Islam di Nusantara dianggap
sebagai hasil kegiatan orang-orang Arab, tetapi hal ini tidak langsung datang
dari Arab, melainkan dari India, terutama dari pesisir barat, dari Gujarat dan
Malabar. Jika logika ini dibalik, maka dapat dinyatakan bahwa meskipun Islam di
Nusantara berasal dari India, sesungguhnya ia dibawa oleh orang-orang Arab
juga. Sedangkan menurut Maquette ada hubungan antara Gujarat dan Indonesia,
dengan alasan bahwa batu nisan makam Raja Malik Al-Saleh yang merupakan raja kerajaan
Samudera Pasai Aceh, bertuliskan angka tahun 686H/1297 M dengan menggunakan
nisan yang berasal dari Gujarat India. Selain itu batu nisan yang terdapat di
makam Maulana Malik Ibrahim di Gresik, Jawa Timur, juga menunjukkan hal yang
sama. Kedua batu nisan tersebut memiliki persamaan bentuk dengan batu nisan
yang terdapat di Cambay Gujarat India.
2.
Teori Arab
Teori ini di kemukakan oleh Sir Thomas Arnold, ia
berpandangan bahwa, para pedagang Arab telah menyebarkan Islam ketika mereka
menguasai secara dominan perdagangan Barat-Timur sejak abad-abad awal Hijriah
atau abad ke-7 dan 8 Masehi. Meskipun tidak terdapat catatan-catatan sejarah
tentang kegiatan mereka dalam penyebaran Islam, namun ia berasumsi bahwa mereka
juga terlibat dalam penyebaran Islam kepada penduduk lokal di Indonesia. Dalam
sejarah masuknya Islam ke Indonesia Teori ini mengatakan bahwa Islam datang ke
Indonesia secara langsung dari Arab, tidak melalui perantara bangsa lain.
Beberapa bukti sejarah dikemukakan untuk menguatkan teori ini. Teori ini
mengatakan bahwa Islam masuk ke Indonesia langsung dari Makkah (Arab) sebagai
pusat agama Islam sejak abad ke-7. Salah satu sejarawan yang mendukung teori
ini ialah Prof. Hamka. Dia menyatakan bahwa Islam sudah datang ke Indonesia
pada abad pertama Hijriah (abad ke 7-8 M) langsung dari Arab dengan bukti jalur
perdagangan yang ramai dan bersifat internasional sudah dimulai melalui selat
Malaka yang menghubungkan Dinasti Tang di China (Asia Timur), Sriwijaya di Asia
Tenggara, dan Bani Umayyah di Asia Barat. Menurutnya, motivasi awal kedatangan
orang Arab tidak dilandasi oleh nilai-nilai ekonomi, melainkan didorong oleh
motivasi spirit penyebaran agama Islam. Dalam pandangan Hamka, jalur
perdagangan antara Indonesia dengan Arab telah berlangsung jauh sebelum tarikh
Masehi. Hamka berpendapat bahwa pada tahun 625 M, berdasarkan sebuah naskah
Tiongkok yang dicatat oleh pendeta Budha I-Tsing yang melakukan perjalanan dari
Canton menuju India. Perjalanan tersebut menggunakan kapal Posse, dan pada
tahun 674 M ia singgah di Bhoga (yang sekarang dikenal dengan Palembang,
Sumatera Selatan). Di Bhoga ia menemukan sekelompok bangsa Arab yang telah
bermukim di pantai Barat Sumatera (Barus). Sebagian orang-orang Arab ini
diceritakan melakukan perkawinan dengan wanita lokal. Komunitas Arab ini
disebutnya sebagai komunitas TaShih dan Posse. Mereka adalah para pedagang yang
telah lama menjalin hubungan perdagangan dengan kerajaan Sriwijaya. Karena demi
hubungan perdagangan itulah kemudian kerajaan Sriwijaya memberikan daerah
khusus untuk mereka. Sejarawan lain juga mendukung teori Arab adalah Uka
Tjandrasasmita, A. Hasymi, Azyumardi Azra dan lain-lain. Selain informasi
tersebut, Azyumardi Azra menambahkan, bahwa ditemukannya adaptasi lain yang
dilakukan oleh bangsa Indonesia adalah atas pengaruh bangsa Arab ini. Misalnya
dari segi bahasa dan tradisi, seperti pada kata dan tradisi bersila yang sering
dilakukan oleh bangsa Indonesia yang merupakan tradisi yang dilakukan oleh
bangsa Arab atau Persia yang egaliter. Disamping alasan di atas, makam Fatimah
Binti Maimun di Leran Jawa Timur semakin menguatkan teori ini. Fatimah binti
Maimun bin Hibatullah adalah seorang perempuan beragama Islam yang wafat pada
hari Jumat, 7 Rajab 475 Hijriyah (2 Desember 1082 M). Inskripsi nisan terdiri
dari tujuh baris, dan berikut ini adalah hasil bacaan Jean Piere Moquette yang
diterjemahkan oleh Muh. Yamin terhadap tulisan pada batu Nisan tersebut: Atas
nama Tuhan Allah Yang Maha Penyayang dan Maha Pemurah. Tiaptiap makhluk yang
hidup di atas bumi itu bersifat fana. Tetapi wajah Tuhanmu yang bersemarak dan
gemilang itu tetap kekal adanya. Inilah kuburan wanita yang menjadi syahid
bernama Fatimah binti Maimun. Putera Hibatu’llah yang berpulang pada hari
Jumiyad ketika tujuh. Sudah berlewat bulan Rajab dan pada tahun 495 H/ 475 H,
Yang menjadi kemurahan Tuhan Allah Yang Maha Tinggi Beserta Rasulnya yang
Mulia. Azyumardi Azra menambahkan, Islam datang di Indonesia pada abad ke-7 M,
namun baru dianut secara terbatas oleh para pedagang Arab yang berdagang di
Indonesia, dan baru mulai tersebar dan dianut oleh masyarakat Indonesia pada abad
ke-12, yang disebarkan oleh para sufi pengembara yang berasal dari Arab. Alasan
ini dikuatkan oleh corak Islam awal yang dianut oleh masyarakat Indonesia
adalah Islam bercorak sufistik, karena pada masa al-Ghazali (Dinasti Abbasiyah)
muncul sufi-sufi pengembara yang bertujuan untuk menyebarkan Islam tanpa
pamrih, maka sufi-sufi inilah yang disinyalir datang dan menyebarkan Islam di
Indonesia.
3.
Teori Persia
Sejarawan Hoesein Djajaningrat adalah orang yang
mengemukakan teori ini. Dalam Teori ini dinyatakan bahwa Islam masuk ke
Nusantara pada abad ke-13 M di Sumatra yang berpusat di Samudra Pasai. Teori
Persia lebih menitik beratkan tinjauannya pada aspek persamaan kebudayaan yang
hidup di kalangan masyarakat Islam Indonesia dengan Persia. Bukti-bukti
persamaan tersebut di antaranya:
a.
Adanya peringatan 10
Muharram atau ‘Asyura atas meninggalnya Husein cucu Nabi Muhammad Saw di
Karbala, yang sangat dijunjung oleh kaum muslim Syiah di Iran (Persia). Di
Sumatra Barat, peringatan tersebut disebut dengan upacara keranda Tabut yaitu
mengarak keranda yang diatas namakan keranda Husain dan disebut ‘keranda Tabut’
untuk dilempar di sungai. Sedangkan di pulau Jawa ditandai dengan pembuatan
Bubur Syuro.
b.
Adanya kesamaan konsep
ajaran sufisme yang dianut Syaikh Siti Jenar dengan Al-Hallaj, seorang sufi
besar dari Persia.
c.
Penggunaan istilah bahasa
Iran (Persia) dalam sistem mengeja huruf Arab untuk tanda-tanda bunyi harakat.
Contoh Jabar – fathah, jer – kasrah, p’es – dhammah
d.
Adanya persamaan batu nisan
Maulana Malik Ibrahim tahun 1419 M di Gresik dan Malik Al Shalih 1297 M di
Pasai yang berasal dari Gujarat.
Berdasarkan
hal tersebut Hoesein Djajaningrat berpendapat bahwa Gujarat merupakan daerah
yang mendapat pengaruh dari Persia yang menganut faham Syiah dan dibawa ke
Indonesia.
4.
Teori China
Teori ini menyatakan bahwa Islam datang ke Indonesia (Jawa
dan Sumatra) berasal dari para perantau China. Menurut teori ini, orang China
telah berhubungan dengan masyarakat Indonesia jauh sebelum Islam dikenal di Indonesia.
Pada masa Hindu-Buddha, etnis China atau Tiongkok telah berbaur dengan penduduk
Indonesia terutama melalui kontak dagang. Bahkan, ajaran Islam telah sampai di
China pada abad ke-7 M, masa di mana agama ini baru berkembang. Sumanto
al-Qurtuby dalam bukunya Arus ChinaIslamJawa menyatakan, menurut kronik (sumber
luar negeri) pada masa Dinasti Tang (618-960) di daerah Kanton, Zhang-zhao,
Quanzhou, dan pesisir China bagian selatan, telah terdapat sejumlah pemukiman
Islam.Teori China didasarkan pada sumber luar negeri (kronik) maupun lokal
(babad dan hikayat). Bahkan menurut sejumlah sumber lokal tersebut ditulis
bahwa raja Islam pertama di Jawa, yakni Raden
Fatah dari Bintoro Demak, merupakan keturunan China. Ibunya disebutkan berasal
dari Campa, China bagian selatan (sekarang termasuk Vietnam). Berdasarkan
Sejarah Banten dan Hikayat Hasanuddin, nama dan gelar raja raja Demak beserta
leluhurnya ditulis dengan menggunakan istilah China, seperti “Cek Ko Po”, “Jin
Bun”, “Cek Ban Cun”, “Cun Ceh”, serta “Cu-Cu”. Nama-nama seperti “Munggul” dan
“Moechoel” ditafsirkan merupakan kata lain dari Mongol, sebuah wilayah di utara
China yang berbatasan dengan Rusia. Bukti-bukti lainnya adalah masjid-masjid
tua yang bernilai arsitektur Tiongkok yang didirikan oleh komunitas China di
berbagai tempat, terutama di Pulau Jawa. Pelabuhan penting sepanjang abad ke-15
seperti Gresik, misalnya, menurut catatan-catatan China, diduduki pertama-tama
oleh para pelaut dan pedagang China. Daerah yang mula-mula menerima agama Islam
adalah Pantai Barat pulau Sumatera. Dari tempat itu, Islam kemudian menyebar ke
seluruh Indonesia.
Pada dasarnya semua teori
memiliki kelebihan dan kelemahan tidak ada kebenaran yang mutlak dari landasan
teori-teori tersebut. Namun hal yang sangat penting bahwa Islam tersebar di
negeri Indonesia tidak dengan jalan kekerasan melainkan dakwah dengan hikmah,
nasehat yang baik.
Comments
Post a Comment