PERKEMBANGAN
PERADABAN DINASTI ABASIYAH
A.
Kemajuan Ilmu Agama
1.
Ilmu Tafsir
Kemajuan yang telah dicapai ilmu tafsir pada masa ini
adalah berpisahnya dari ilmu hadits, dan terjadi penafsiran secara sistematis.
Tafsir pada masa itu terbagi ke dalam dua bentuk :
a.
Tafsir bi-al-ma’tsur
yaitu model penafsiran Al-Quran dengan menggunakan interpretasi Nabi dan
sahabat-sahabat terkemuka, diantara ahli tafsirnya adalah al-Thabari (w. 310
H). yang berjudul Jami al-Bayan fi Tafsir Al-Quran yang terdiri atas 30 jilid.[1]
Selain itu ada Ibnu Athiyah al Andalusy, as Suda’I (yang mendasarkan tafsirnya
kepada Ibnu Abas dan Ibnu Mas’ud), Muqatil bin Sulaiman (penafsirannya
terpengaruh kitab Taurat) dan Muhammad bin Ishq (dalam tafsirnya banyak
mengutip cerita Israilliyat)
b.
Tafsir bi al-ra’yi
yaitu model penafsiran yang lebih banyak bertumpu pada kekuatan nalar, diantara
ahli tafsir dalam metode ini yang lebih banyak
dipelopori dari aliran Mu’tazilah seperti Abu Bakar al-Sham (w. 240 H).
Jadi pada masa inilah semakin berkembang interpretasi Al-Quran, hal ini
dipengaruhi oleh perkembanagan-perkembangan filsafat dan ilmu pengetahuan
2.
Ilmu Hadis
metode pengumpulan hadis
-
Al Musnad, yaitu
mengumpulkan hadis berdasarkan perawinya
-
Musannaf, yaitu pengumpulan
hadis berdasa isinya, kitab disusun dan dibagi sesuai pasal-pasal atau bab-bab
yang lebih khuus sesuai dengan fikih
Adapun tokoh
pengumpul hadis yang hidup pada masa DInasti Abasiyah adalah Imam Bukhari, Imam
Muslim, Abu Daud, At Tirmidzi, An Nasai dan Ibnu Majah
3.
Ilmu Fiqih
Merupakan kebanggaan pada masa pemerintahan Abbasiyah
ini adalah lahirnya empat imam mazhab yang ulung. Mereka itu adalah Imam Abu
Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i dan Imam Ahmad bin Hambal. Keempat ulama
inilah merupakan ulama fiqih yang paling agung dan tiada tandingannya di dunia
Islam.
Metode istimbat hukum yang digunakan oleh para fuqaha
pada masa ini dapat dibedakan menjadi ahl ra’yi dan ahl hadits. Yang pertama
banyak dipengaruhi perkembangan yang terjadi di Kufah, dimana kehidupan
masyarakat telah mencapai tingkat kemajuan yang lebih tinggi. Olehnya itu
mazhab ini lebih banyak menggunakan pemikiran rasional dari pada hadits, dan
tradisi masyarakat Madinah. Perbedaan kedua mazhab ini dapat ditengahi oleh
Imam Syafi’i dan Imam Ahmad bin Hambal.[2]
Kitab-kitab yang terkenal sekaligus menjadi pegangan mazhab mereka adalah
al-fiqh al-Akbar karya Imam Abu hanafi, al-Muwaththa karya Imam Malik,
Al-Risalah Karya Imam Syafi’i serta al-Kharfy pada masa ini mengalami kemajuan
seiring dengan perkembangan pemikiran masyarakat serta lahirnya beberapa
buku-buku yang telah dikarang oleh para imam mazhab.
4.
Ilmu Kalam
Ilmu kalam lahir karena dorongan untuk membela Islam
dengan pemikiran filsafat dari serangan orang-orang Kristen, Yahudi yang
mempergunakan senjata filsafat dan menyelesaikan persoalan agama dengan
kemampuan akal pikiran dan ilmu pengetahuan. Orang-orang dari golongan
Mu’tazilah yang andil besar dalam mengembangkan ilmu kalam, dan penyelesaiannya
bercorak filsafat Islam. Pada masa ini tokoh-tokoh besar dalam bidang ilmu
kalam, seperti dari Mu’tazilah dikenal antara lain Abu al-Huzail al-Allaf (w.
235 H) al-Nizam (w. 231), serta al-Jubbai (w. 290H). Sedangkan dari ahlu Sunnah
waljamaah antara lain, al-Asy’ary (w. 234), al-Baqillani (w. 403 H), al-Juwaini
(w. 479H). Ilmu kalam semakin berkembang pada masa ini dikarenakan adanya
penerjemahan bahasa Yunani ke dalam bahasa Arab. Ilmu pengetahuan yang paling
penting yang muncul dari kecenderungan itu adalah teologi, Hadits, Fikih, dan
Linguistik. Kebanyakan sarjana dalam bidang ini adalah keturunan Arab. Minat
orang Arab Islam paling awal tertuju pada cabang keilmuan yang lahir karena
motif keagamaan. Kebutuhan untuk memahami dan menjelaskan Al-Quran, kemudian
menjadi landasan teologis dan linguistik yang serius. Interaksi dengan dunia
Kristen pada abad pertama Hijriah di Damaskus telah memicu munculnya pemikiran
spekulatif teologis yang melahirkan mazhab pemikiran Murjiah dan Qadariah.
5.
Ilmu Tasawuf
Ilmu Tasawuf adalah ilmu Syari’at. Inti ajarannya
ialah tekun beribadah, menyerahkan diri sepenuhnya pada Allah meninggalkan atau
menjauhkan diri dari kesenangan dan perhiasan dunia, serta bersembunyi diri
dalam beribadah.
Tahapan maqam yang dilalui oleh para sufi dalam ilmu
tasawuf yaitu:
a.
Zuhud yaitu
kehidupan yang terbebas dari meteri duniawi.
Tokoh sufinya adalah Sufyan as Sauri, Abu Hasyim dan
Jabir bin Hasyim
b.
Mahabbah, yaitu rasa
cinta yang sangat mendalam kepada Allah SWT
Tokohnya adalah Rabi’ah al Adawiyah
c.
Ma’rifat, yaitu
pengalaman ketuhanan.
Tokohnya Dzun Nun al Misri dan Junanid al Bagdadi
d.
AL Fana dan AL
Baqa, yaitu keadaan ketika sorang sufi dapat menyatukan dirinya dengan
Tuhan sebelum menghancurkan dirinya.
Tokohnya Abu Yazid al Bustami
e.
Ittihad dan Hulul,
yaitu tahapan ketika seseorang telah merasakan dirinya bersatu dengan Tuhan.
Tokohnya Abu Yazid al Bustami dan Al Hallaj
Tokoh Tasawuf lain
yang terkenal adalah Al Ghazali dengan bukunya Ihya Ulumuddin.
B.
Kemajuan di bidang Ilmu
Pengetahuan
1.
Ilmu Kedokteran dan Farmasi
Pada masa Dinasti Abbasiyah ini ilmu kedokteran telah
mencapai puncaknya sehingga melanirkan para dokter yang terkenal. Diantaranya
adalah:
a.
Muhammad bin Zakaria Ar
Razi (Rhazes). Berjasa dalam mempelajari dan mengobati penyakit Campak dan
Cacar. Karya besarnya adalah al Hawi.
b.
Hunain Ibnu Ishaq, dokter ahli
dalam bidang penyakit mata dan penerjemah buku-buku kedokteran kedalam Bahasa
Arab
c.
Ali Abbas, menyusun
ensiklopedia kedokteran dengan judul Kitab al Maliki. Buku ini
diterjemahkan dalam bahasa Latin dengan judul Liber Regius dan dalam
Bahasa Inggris The Whole Medical Art.
d.
Ibnu Sina (Avicena) dengan
karyanya yang terkenal al Qanun fi at Tiib yang diterjemahkan dalam
bahasa inggris berjudul Canon of Medicine. Buku ini menjadi pedoman bagi
Universitas di Eropa dan Negara-negara Islam.
e.
Abu Marwan Abdul Malik ibnu
Abil ‘Ala Ibnu Zuhr, terkenal menjadi dokter penyakit dalam. Karyanya yang
terkenal adalah at Tasir dan al Iqtida
f.
Ibnu Rusyd, dikenal sebagi
dokter perintis di bidang penelitian pembuluh darah dan acacr. Karyanya yang
terkena adalah Kitab al Kulliya
g.
Abu Zakariya Yuhana bin
Miskawaih adalah seorang ahli farmasi di RS Jundishapur
h.
Sabur bin Sahal menjadi
direktur di RS Jundishapur
2.
Ilmu Astronomi/Perbintangan
-
Tokoh astronomi Islam
pertama adalah Muhammad al Fazani, ia mengoreksi tabel yang ada berdasar teks
astronomi India Shiddanta yang ditulis oleh Brahmanagupta.
-
Tokoh astronomi lain adalah
Muhammad bin Musa al Khawarizmi yang berhasil membuat tabel astronomi Zij as
Sindi
-
Abu Ma’syur al Falaki,
karyanya yang terkenal adalah Isbatul Ulum dan Haiatul Falaq
-
Jabir Al Batany, pencipta
alat terpong bintang pertama. Karyanya yang terkenal adalah Kitabu Ma’rifati
Matlil-Buruj Baina Arba’il Falaq
-
Raihan al Bairuny, karyanya
yang terkenal adalah Tafhim li awa’ili Sina’atit Tanjim
3.
Ilmu Pasti
(riyadiyat)/Matematika
Disamping perkembangan sains di
atas ilmu pasti (matematika), dikenal Muhammad ibn Musa al-khawarizmi, adalah
yang menemukan ilmu al-jabar wa al-Muqabalah yang sangat mempengaruhi ilmuan
sesudahnya seperti Umar Khayam.
Demikianlah puncak kejayaan yang telah dialami oleh
Khalifah Abbasiyah sampai masa khalifah al-Mutawakkil. Sepeninggalnya daulat
ini mulai mengalami kemunduran karena
khlifah-khlifah penggantinya pada umumnya lemah tidak mampu melawan kehendak
tentara yang sangat berkuasa sehingga khalifah tidak punya peranan lagi yang
punya peranan hanyalah tentara-tentara dari Turki.
Selain itu, juga ada Sabit Qurah al Hirany dengan
karyanya yang terkenal yaitu Hisabul Ahliyah dan Abdul Wafa Muhammad bin
Muhammad bin Ismail bin Abas dengan karyanya Ma Yahtaju ilaihi al Kutab wal
Umal min Ilmil Hisab.
4.
Ilmu Filsafat
Proses penerjemahan yang dilakukan ilmuan Islam pada
masa Dinasti Abasiyah tidak hanya menerjemahkan ilmu pengetahuan. Akan tetapi
juga mentransfer dalam bentuk pemikiran. Peristiwa ini disebut dengan Hellenisasi.
Tokoh Ilmu Filsafat dalam perkembangan Islam adalah
a.
Abu Yusuf Ya’qub al Kindi
(AL KIndi). Beliau menjelaskan hubungan tentang filsafat dan agama. Menurutnya,
antara keduanya tidak ada saling pertentangan, karena keduanya bertujuan
mencari kebenaran. Ia mendapat julukan The Philosopher of the Arabs.
b.
Abu Bakar Ar Razi. Ia
mengandalkan rsio bagi manusia
c.
Abu Nasr Al Faraby. Beliau merintis
Bahasa Arab menjadi Bahasa Filosofi, termasuk memasukan unsur logika
Aristoteles
d.
Ibnu Sina. Selain sebagai
ahli kedokteran juga sebagai ahli filsafat, karena beliau gemar mencari dan
menguasai ilmu pengetahuan
e.
Imam Al ghazali dengan
karyanya Maqasid al Falasifah dan Tahafut al Falasifah
f.
Ibnu Bajjah (Avempace)
dengan karyanya Risalatul Wada, Akhlak, Kitab an Nabat, Risalah al Itsbal al
Aql bil Insan dll
g.
Ibnu Tufai dengan karyanya Hay
bin Yaqzan
h.
Ibnu Rusyd. Di barat
dikenal dengan komentator terhadap pemikiran aristoteles sedang di Timur
dikenal dengan pembela pemikiran al ghazali
i.
Abu Raihan al Bairuni,
menggali pemikiran filsafat India
j.
Ibnu Miskawaih, yang
mengupas moral adalah bagian dari filsafat dengan karyanya Tahzib al Akhlak dan
Jawidan Khirad
5.
Ilmu Sejarah
Tokohnya
a.
Muhammad bin Ishaq dengan
karyanya Sirah an Nabawiyah li Ibn Ishaq
b.
Ibnu Hisyam, beliau adalah
murid dari Muhammad bin Ishaq
c.
Al Waqidi, dengan karyanya Tarikh
al Kabir
d.
Muhammad bin Sa’ad, beliau
asisten al Waqidi.
6.
Ilmu Geografi
Sebelum abad ke 12 M istilah geofragi belum digunkan
dalam literature Islam. Saat itu hanya disebut bumi. Istilah Geografi diperkenalkan
oleh az Zuhri, filsuf dari Kordoba. Tokoh-tokoh Ilmu Geografi adalah
a.
Ibnu Khurdazbih, adalah
ahli geografi berkebangsaan Persia. Keryanya yeng terkenal adalah al Masalik
wa al Mamalik.
b.
Al Jahiz, telah menulis
buku Kitab al Hayawan dan Rasail karya Ikhwan as Safa yang
merupakan sumber berharga dalam pengembangan ilmu geografi
c.
Al Biruni, dengan karyanya al
Hind dan al Asar al Baqiyah ‘an al Qurun al Khaliyah
d.
AL Barazuru, dengan
karyanya Futuh al Buldan
e.
Yaqut bin Abdullah al
Hamawi, dengan karyanya Mu’jam al Buldan
f.
Ibnu Batutah dengan
karyanya Tuhfah an Nuzzar fi Gara al Amsar wa ‘Aja’ib al Asfar
C. Pusat Peradaban Dinasti Abasiyah
Kota-kota yang
terkenal menjadi pusat peradaban Dinasti Abbasiyah antara lain:
1.
Baghdad
Kota ini merupakan yang paling indah karena dikerjakan
oleh lebih dari 100 ribu pekerja yang dipimpin oleh Hajaj bin Arthal dan Amran
bin Wadldlah. Di kota ini, terdapat istana di pusat kota, asrama pegawai, rumah
kepala polisi, dan rumah keluarga khalifah. Istananya bernama Qasruzzabad yang
memiliki luas 160 ribu hasta persegi. Dibuat sangat indah dengan membujur empat
jalan utama ke luar kota. Di kiri kanan jalan, dibuat gedung bertingkat. Di
luar Kota Baghdad, dibangun kota satelit, seperti Rushafah dan Karakh. Kedua
kota tersebut dilengkapi dengan kantor, toko-toko, rumah, taman, kolam, dan
lainnya. Karena itu, Kota Baghdad menjadi kota impian seluruh dunia.
2.
Samarra
Letaknya di sebelah timur Sungai Tigris, kurang lebih
60 kilometer dari Baghdad. Kotanya sangat indah, nyaman, dan teratur. Nama
'Samarra' diberikan oleh Khalifah Al-Manshur. Ketika peresmian kota, banyak
orang yang terkesan dengan keindahannya. Hal ini sesuai dengan namanya Samarra
yang berasal dari kata 'Sarra Man Ra'a' yang berarti senang memandangnya. Di
kota ini, terdapat 17 istana yang sangat indah, cantik, dan mungil yang menjadi
contoh seni bangunan Islam di kota-kota lainnya.
3.
Sevilla
Kota ini merupakan salah satu kota terindah di Spanyol
dan terletak di tepi Sungai Guadal Quivir. Pernah menjadi ibu kota Kerajaan
Mulukuththawaif. Di kota ini, dulu, dibangun sebuah masjid yang sangat megah.
Namun, kini masjid itu telah menjadi Gereja Santa Maria. Menaranya mencapai 70
meter dengan dasar sekitar 13,60 meter.
4.
Granada
Kota ini memiliki tanah yang subur. Di kota ini,
dibangun sebuah istana yang sangat terkenal sampai kini, yaitu Istana Granada
yang dibuat oleh raja-raja Akhmar dan diberi nama al-Hambra.
5.
Cordoba
Kota ini didirikan oleh Abdurrahman Ad-Dakhil
(Abdurrahman sang Penakluk, wafat 852 M). Puncak keemasannya dialami pada masa
Sultan Abdurrahman III yang bergelar An-Nasyir (w 961 M). Cordoba menjadi kota
teladan di seluruh Eropa karena kota lainnya sangat kotor, becek, gelap, serta
sepi. Sementara itu, Cordoba sangat indah, terang benderang, bersih, dan indah
di pandang mata.
6.
Qahirah atau Kairo
Kota Kairo didirikan oleh Jauhar As-Saqali tahun 358
Hijriyah sebagai pusat Dinasti Fatimiyah di Mesir. Di kota ini, terdapat
Universitas Al-Azhar yang menampung ribuan mahasiswa dari berbagai penjuru
dunia. Selain Universitas Al-Azhar, di kota ini juga terdapat Masjid Amru bin
Ash.
[1] Lihat,
HALassan Ibrahalim HALassan, Islamic HAListory and Culture, diterjemahalkan
olehal Jhalohalan HALuman dengan judul “Sejarahal dan Kebudayaan Islam”, (Cet.
I; Yogyakarta: Kota Kembang, 1989), hal. 138
[2] Philip
K. Hitti, History of Thale Arabs; From thale Earliest Times to thale
Present, (New York: Palgrave Macmillan,
2002), Hal 54
Comments
Post a Comment